Selasa, 07 Oktober 2014

Tips Menghadapi Pacar Drama

Kemaren sore gue iseng buka Facebook. Udah lumayan lama juga medsos satu ini nggak gue jamah. Sejak ada Path, Instagram, apalagi Twitter, nasib Facebook udah sama kek bini tua. Nggak pernah lagi “dimasukin.”

Sekitar lima belas menit lamanya scroll, gue bisa menyimpulkan bahwa isi Facebook sekarang makin aneh. Di Beranda gue misalnya, penuh sama akun Online Shop yang ngejual macem-macem barang. Dari mulai alat yang bisa bikin titit lelaki jadi sebesar betis babon, sampai beha elektrik yang bisa menyala dalam gelap.

Nggak cuma itu, banyak juga akun yang kerjaannya upload-upload foto selfie dengan gaya yang bisa bikin mata orang yang ngeliat langsung terserang kanker retina.

Terus, ada juga sebuah akun yang isi statusnya emosional pake banget. Iya, dari terbit fajar sampai terbenamnya matahari, dia terus update status marah - marah kek sopir angkot yang mobilnya kena derek sama Dishub gara-gara parkir di kotak penalti GBK. 

Nama akun tersebut adalah, Bambang PhobiaSetan.

Jumat, 05 September 2014

Tips mendekati Mahasiswa Baru



“Jangan deket-deket sama Maba!”

“Jangan mendekati lokasi ospek dalam radius 500 meter!”

“Ke kampus pakai baju yang biasa aja, jangan sok kecakepan!”

“Pokoknya abis kuliah langsung pulang, jangan nongkrong dulu di kantin!”


Itulah kalimat dari seorang Ayu kepada gue ketika kampus kami kebanjiran mahasiswa baru bulan ini. Sebagai cowok yang amanah, gue langsung mengiyakan instruksi dari Nyonya Besar itu. Takut dia ngambek terus ngacak-ngacak pasar.

Minggu, 31 Agustus 2014

Rumah Kontrakan



“Tok…tok…tok” Seseorang mengetuk pintu kamar kost gue.

Gue yang waktu itu baru saja keluar dari kamar mandi, segera berlari ke pintu dan membukanya. Disana ada seseorang lelaki berwajah dangdut dengan mengenakan sweater abu-abu sedang tersenyum.

“Ad apa ya, pak?” Tanya gue sopan.

“Sehat, mas?”

“Se-sehat…sehat.”

“Lagi ngapain?”

“Hmm…Baru abis keramas aja pak.”

“Oh..iya. Itu rambutnya basah dan berkilau”

“Ah bapak…cuma pakai shampo kok”

Senin, 23 Juni 2014

Menentukan Cita-Cita


Bulan September besok adalah Anniversary gue dengan kampus tercinta. Hubungan kami udah berlangsung selama kurang lebih 3 tahun lamanya. Ibarat sepasang kekasih, kami udah berhasil ngelewatin banyak hal bersama. Dari mulai berantem gara-gara SPP dinaikin terus tiap semester, masa-masa ngambek karena kampus nggak ngasih libur dihari kejepit, masa-masa bosen karena tiap hari ketemuan, dan dulu di tahun kedua, ada masa kelam dimana gue ke “GEP” lagi beduaan sama kampus lain. Dan dengan pengertiannya kampus gue nggak marah sama sekali bahkan nggak ngasih respon apa-apa. Karena dia cuma bangunan.

Tapi sayangnya, hubungan kami adalah hubungan yang bisa dibilang sulit untuk dijalani. Sebab, gue nggak bisa selamanya mempertahankan hubungan ini, karena mau nggak mau, hubungan indah ini harus berakhir dengan prosesi wisuda yang akan gue alami di tahun ke-4 nanti. Dan, yang jadi permasalahan adalah, “MAU NGAPAIN GUE SEHABIS WISUDA?” Apakah gue harus macarin kampus lain yang lebih sempurna dengan jenjang S2? atau gue pindah selera dengan macarin bangunan bernama kantor?

Minggu, 11 Mei 2014

Negative Thinking


Selesai menghabiskan sebakul nasi dan beraneka macam lauk pauk yang kayaknya nggak terdaftar dalam jajaran menu empat sehat lima sempurna, gue merogoh tas dan mengambil sebungkus rokok. Meskipun keliatan banyak, tapi bagi gue –dengan ukuran lambung yang sama lebarnya dengan kresek laundry- makanan segitu belum ada apa-apanya. Cuma cemilan ringan yang ngotor-ngotorin gigi!

Gue lalu ngeluarin sebatang rokok dari bungkusnya dan membakar rokok itu sambil nyedotin sisa-sisa jus alpukat yang agak hambar karena kurang gula. Dan melanjutkan obrolan dengan Ayu, temen gue dikampus, yang tadi sempat terhenti saat kami makan. Ayu adalah seorang cewek berumur 19 tahun, cita-citanya pengen punya salon, mangkanya doi kuliah di fakultas Hukum (Nyambung banget!). Sekedar informasi, Ayu punya wajah yang menurut gue sangat baby face. Sedangkan gue punya wajah yang sangat manula face. Sehingga, sore itu gue terlihat seperti seorang duda yang lagi ngajak anak bungsunya jalan-jalan.

Rabu, 02 April 2014

Dear Tia...



Aris adalah salah seorang temen gue yang udah bosen dengan kesendiriannya. Dia udah jomblo selama kurang lebih 7 tahun 29 hari. Nggak heran kalo sekarang dia ngebet banget dan “wajib” punya pacar sebelum dikatain homo sama seisi kampus.

Setiap ada cewek yang tak berpemilik, Aris selalu mencoba mendekati mereka dengan jurus-jurus mautnya. Namun karena terlalu agresif dan tergesa-gesa, usaha Aris itu selalu gagal dengan sukses!

Mungkin karena udah sangat lama nggak pacaran, Aris lupa kalo yang sedang dia deketin itu adalah manusia, bukan hewan mamalia yang sekali di deketin langsung bisa diajak berkeluarga.

Hingga suatu hari, ada seorang cewek yang merasa klop dengan Aris. Seorang cewek yang memandang Aris dari sudut pandang berbeda dari cewek-cewek lainnya yang pernah Aris dekati. Dan hal itu, secara otomatis langsung membuat Aris sangat tergila-gila kepadanya.

Rabu, 12 Maret 2014

Perbedaan Sayang Dengan Suka


Klara adalah seorang mahasiswi disuatu universitas yang tidak terakreditas dan tidak terdaftar di kementerian pendidikan. Selain menjadi mahasiswi di kampus illegal tersebut, Klara juga mempunyai pekerjaan sampingan, yaitu sebagai seorang foto model profesional. Salah satu prestasinya, Klara pernah menjadi model kalender akademik dikampusnya. Dan saat ini dia sedang sibuk menjadi model atribut kampanye parpol menjelang pemilu 2014.

Wajahnya yang sering terpampang di kalender akademik, menjadikan Klara sangat terkenal di kampus. Sehingga, tidak sedikit mahasiswa yang terpesona akan kecantikan dan kemolekan tubuh Klara. Salah satunya Abdullah Tayamum. Dia adalah salah seorang mahasiswa yang juga kuliah di kampus yang sama dengan Klara. Hanya saja mereka berbeda fakultas. Klara kuliah di fakultas ilmu Ekonomi sedangkan Abdul di fakultas ilmu kanuragan.

Abdul sangat mengidolakan Klara. Dia membeli semua atribut kampanye yang ada foto Klara dan menyimpan semua kalender akademik yang memajang wajah Klara dari edisi tahun 1997 hingga kalender akademik edisi 2014.

Senin, 24 Februari 2014

Cara Nagih Barang Pinjaman


“Sep, ini bungkusan apa?” Tanya gue ke Asep sewaktu menemukan bungkusan kuning di lemari pakaiannya. 

“Itu celana jeans lo yang gue pinjem pas kita ospek dulu” Jawab Asep santai dan nggak menoleh sedikit pun kearah gue karena sedang asik menyaksikan saluran edukasi favoritnya. YKS.

“Kampret!!! Kenapa nggak dibalikin dari dulu?!”

“Nggak bisa…”

“Loh, kenapa?”

“Waktunya belum indah”

“Maksudnya?”

Asep berdiri, berjalan menghampiri gue dan memegang pipi gue dengan kedua tangannya. “Arie, semua hal itu bakalan indah pada waktunya…” Dia lalu tersenyum dan tanpa berkata-kata langsung kembali ke depan TV.

Minggu, 02 Februari 2014

Ketika Temen Jadi Demen. . .



“Pagi semua, selamat datang di kelas sepuluh A..!!” Teriak seorang ibu-ibu bersemangat sambil membawa absensi dan beberapa buku Fisika yang dijepit diketiak kanannya. “Pagi, juga, buuu…!!” Balas kami tak kalah bersemangat menyambut hari pertama di bangku SMA.

“Baiklah, nama saya Miranda, saya wali kelas pertama kalian di sekolah ini. Kalian semua harus ikuti permainan saya kalau mau selamat sampai UAN. PAHAM SEMUA?!!” Ibu-ibu itu menjelaskan dengan mimik muka serius dan suara yang lantang, sejenak dia terlihat seperti seorang komandan pasukan pemberontak wanita dari Palestina.

“PAHAM, BU!!” Seluruh kelas menjawab dengan ekspresi shock dan ketakutan. Bahkan karena suara keras dari ibu itu, ada beberapa siswa yang gendang telinganya bernanah.

Selanjutnya, bu Miranda menjelaskan mengenai peraturan-peraturan yang akan diterapkan di kelas, dan disinilah kebiasaan jelek gue muncul. Gue nggak lagi fokus ke ibu Miranda, mata gue tiba-tiba bergerak sendiri keseluruh penjuru kelas. Mencari siapa kira-kira siswi betina yang cukup buta untuk gue jadiin pacar. Maklum, lah, namanya juga sekolah baru, harus dibarengi dengan pacar baru. Pikir gue.

Sedang asik-asinya memandangi siswi-siswi dikelas, tiba-tiba…

*Kleek.* Terdengar suara benda yang terjatuh ke lantai.

“Maaf, bisa tolong ambilin pena saya nggak? Itu, dibawah meja kamu.” Suara lembut seseorang dari sebelah kiri memecah konsentrasi gue. Spontan, tanpa melihat kearah sumber suara kepala gue langsung menunduk dan mengambil pena biru didekat kaki meja.

“Ini…” Ucap gue sambil menyerahkan pena itu kepemiliknya.

“Makasih…” Jawabnya sambil melempar senyum. Tanpa ekspresi apa-apa gue langsung melanjutkan kegiatan curi-curi pandang kearah siswi-siswi dikelas itu yang tadi sempat terhenti. Selang beberapa saat, gue seolah baru menyadari sesuatu! Sepertinya ada hal janggal yang nggak gue sadari. Tanpa ba-bi-bu gue langsung membanting muka kesebelah kiri, kearah datangnya suara lembut tadi.

“Subhanallah.” Bisik gue lirih dengan tatapan kagum yang elegan.

“Hmm?” Si pemilik pena menoleh lagi kearah gue dengan tatapan penuh tanya tapi tetap menjaga tingkat keimutannya.

Sumpah demi Farhat Abbas, ternyata cewek yang duduk disebelah gue itu cantik banget. Sorot matanya tajam dan bening kayak lensa kamera SLR beresolusi tinggi milik ibu negara. Bibirnya tipis dan berwarna alami tanpa sentuhan lipstik. Kulit wajahnya putih bersih, dihiasi dengan rambutnya yang ikal bergelombang sebahu. Kalo diliat dengan seksama, entah karena pikiran gue yang ngeres, gue menyimpulkan kalo cewek ini mirip dengan Miyabi, cuma beda domisili dan lebih memiliki cita rasa seorang betina pribumi.

“Arie, lo jatuh cinta. Ini cewek yang lo cari. Pokoknya lo harus jadiin dia pacar!” Ucap gue bersemangat di dalam hati. Gue kalap dan nggak mikir lagi apakah cewek secantik itu mau sama cowok yang mukanya mirip mamang-mamang penjual bakso berformalin kayak gue. Maka, dipertemuan pertama kami hari itu, gue nekad ngajak dia kenalan dan berhasil. Kenalannya gimana? Kami salaman!

Dan hari itu adalah hari pertama kami menjalin hubungan. Hubungan ‘pertemanan.’

Singkat cerita, sudah hampir empat bulan lamanya kami menyandang status sebagai ‘teman.’ Dalam kurun waktu yang cukup lama itu, hal terintim yang pernah kami lakukan adalah teguran. Iya, cuma sebatas teguran. Nggak ada perkembangan lain. Ngobrol jarang, telponan nggak pernah, tidur berdua apalagi. Gue masih terlalu cemen dan lugu waktu itu. Gue takut kalo sering-sering telponan, nanti dia hamil.

Namun, karena rasa kagum yang teramat sangat dan dorongan syahwat yang sudah tidak terbendung. Akhirnya gue memberanikan diri nembak dia. Gue sudah menyusun rencana, dan rencana ini selalu gue pakai kalo mau nembak cewek. Sepulang sekolah gue nganterin dia pulang. Di depan rumahnya, sewaktu dia mau masuk rumah dan sudah berjalan membelakangi gue, tangannya bakalan gue pegang dari belakang. Secara otomatis dia bakalan menoleh unyu ke belakang, kearah gue. Dan ketika kami sudah saling berhadap-hadapan, inilah saatnya gue melontarkan kalimat haram jadah itu.

“Ka…kamu mau nggak, jadi pacar aku?” Tanya gue serius. Kebetulan suasana waktu itu mendukung banget. Komplek perumahan dia sedang sepi tanpa ada aktivitas apapun dan dari siapapun. Pas banget semisal cinta gue ditolak nantinya, gue bakalan langsung nyulik dia dan minta tembusan ratusan juta ke orang tuanya plus minta dinikahin.

“Maksudnya?” Dia balik bertanya dengan ekspresi muka kebingungan. Entah gue yang ngomongnya nggak jelas atau memang dia yang pura-pura bego’ sehingga nggak ngerti yang gue omongin barusan. Biasalah betina remaja emang sering gitu.

“Iya, kamu mau nggak jadi pacar aku?” Tanya gue sekali lagi menjelaskan. Dan kali ini gue yakin tutur bahasa serta kejelasan suara gue udah maksimal banget. Kalau dia masih bingung atau nggak denger, pupuslah sudah harapan gue untuk mendapatkan seorang pacar yang cerdas dan nggak budeg.

Dia diam beberapa saat seperti kebingungan dan sedang memikirkan sesuatu. Nggak lama, mulutnya bergerak dan berucap, “I…iya.” Jawabannya singkat dan sedikit ragu, tapi suaranya terdengar cukup jelas ditelinga gue.

“Maksudnya?” Sekarang gantian gue yang pura-pura bego’. “Jadi aku diterima? Jadi sekarang kita pacaran?” Sambung gue bersemangat dan langsung melakukan tari Kecak didepan pagar rumahnya.

“Iyaaa…..nggak juga, kita temenan aja, ya!!”

*DANG*

Tarian Kecak gue berhenti seketika dan langsung berubah menjadi tarian penangkal petir. Iya, tarian untuk menangkal petir yang menyambar-nyambar hati gue!. Selamat tinggal Miyabi pribumi, pupus sudah harapanku untuk memilikimu.

“Oh, yaudah, gak apa-apa, kok. HE-HE-HE.” Jawab gue sok tabah, sok nerima, sok kuat, sok nggak pengen nangis.

Akhirnya gue langsung pulang detik itu juga dan meninggalkan dia di depan rumahnya sendirian. Gue pulang dengan membawa kekecewaan dan perasaan malu yang tak terhingga. “Mampus gue kalo temen-temen yang lain tau. Pasti gue bakalan diledek habis-habisan” Ucap gue panik. Hari itu gue berencana untuk pindah sekolah ke benua lain. Tapi karena nggak ada dana, akhirnya nggak jadi.

Besoknya, gue datang ke sekolah dengan perasaan was-was. Karena setau gue, diledekin temen-temen karena ditolak cewek itu, sama malunya dengan diledekin temen-temen karena ditolak cewek. Ya, Pokoknya gitu lah. Gue memang kurang cerdas dalam membuat perbandingan.

Gue masuk ke kelas dengan ragu. Karena masih pagi didalam kelas hanya ada beberapa siswa yang datang. Didepan meja guru gue liat dia dan beberapa temen betinanya sedang ngomongin sesuatu. Gue berjalan lunglai dan duduk diam dibangku gue dengan perasaan yang kacau. Entah kenapa pagi itu gue jadi sensitif, setiap mereka ketawa, gue langsung ngerasa kalo mereka sedang ngomongin gue. Pejantan yang tertolak ini.

Setengah jam kemudian, semua siswa sudah memenuhi kelas. Syukurlah sampai saat ini belum ada hinaan-hinaan keji dari mulut temen-temen gue. Sepertinya dia “belum” ngasih tau siapa-siapa tentang kejadian kemaren. Alhamdulillah…

Sehari…

Dua hari…

Tiga hari…

Semua aman terkendali. Gue pun udah lebih merasa aman dan yakin kalo dia cukup pengertian dengan nggak ngasih tau ke siapapun tentang insiden hari itu. Tapi tiba-tiba, disuatu hari yang cerah ditengah jam pelajaran Biologi, temen gue Rio yang duduk disebelah kanan gue ngelempar sepucuk kertas kearah gue.

“Opo iki?” Tanya gue kepada Rio yang merupakan blasteran Sumatera-Jawa.

“Buka…buka…” Bisik Rio sambil tersenyum menunjuk kertas itu.

Dengan penasaran, gue segera membuka lipatan kertas itu. Gue sempat mengira isi kertas itu adalah gambar guru Biologi kami yang kepalanya diganti jadi kepala hewan-hewan purbakala sama Rio. Kalo sedang bosan ditengah jam pelajaran, kami sering melakukan hal itu. Hampir semua guru sudah kami ubah bentuk kepalanya tergantung selera dan  pesanan. Bagi kami, kegiatan seperti itu adalah kegiatan positif. Selain dapat hiburan, keterampilan seni kami juga bertambah. Begitu pula dengan dosa kami. Semakin bertambah.

Gue buka lipatan demi lipatan, terlihatlah gambar dua orang sedang berpegangan tangan. Yang satu terlihat cantik seperti gambar wanita manga dengan matanya yang besar sedang tersenyum, sedangkan yang satunya berbadan seorang manusia tapi kepalanya diganti jadi kepala kadal Jawa. Dan dibawah gambar itu ada tulisan berbahasa Inggris yang di tulis oleh Rio dengan kemampuan berbahasa Inggris-nya yang jauh di bawah rata-rata anak TK. Tulisannya adalah “Arie <3 Diana, biuty end debis”.

*DANG*

Gue diam, badan gue meriang. Bukan, gue bukan shock karena kepala gue disamakan dengan kepala kadal Jawa. Itu sih udah biasa. Yang jadi masalah adalah, Rio yang nggak terlalu akrab dengan Diana (nama cewek si pemilik pena itu) sudah tau masalah ini. Logikanya, ketika yang tidak akrab saja sudah tau, apalagi yang akrab? Dan parahnya lagi, Diana akrab dengan seluruh teman sekelas kecuali Rio dan Gue. Jadi dapat disimpulkan kalau seantero kelas sudah tau masalah ini!

Abut nyawa Aim ya Allah…

Fix, mulai hari itu semua kelas ngeledekin gue. Sejak langkah pertama gue memasuki kelas di pagi hari, sampai langkah pertama gue keluar kelas disiang hari. Mereka selalu ngeledekin gue disetiap kesempatan.

Sejak saat itu lah, walaupun gue dan Diana duduk sebelahan, tapi kami nggak pernah teguran lagi hingga setamatnya kami dari SMA itu. Terlepas dari ledekan temen-temen sekelas, gue akui kalau memang ada perasaan canggung dalam hubungan pertemanan kami dan itu mendorong kami untuk nggak saling menyapa dalam waktu yang cukup lama. Pena dia kalau jatuh ke meja gue selalu dia ambil sendiri tanpa pernah permisi atau minta tolong lagi ke si pemilik meja. Gue selalu bertanya-tanya, kenapa pena dia selalu jatuh ke meja gue, tapi hatinya nggak pernah jatuh kepelukan gue? Entahlah…

Nah, dari kisah nyata gue barusan itu, gue mau memberi tau kalian kalau ternyata “temen yang jadi demen” itu harus diwaspadai. Karena kalau belum cukup ilmu, akibatnya bisa fatal banget. Kayak gue barusan yang jadi nggak teguran selama 3 tahun lamanya sama temen sekelas gue sendiri.

Gue yakin walaupun nggak sampai pacaran, pasti kalian pernah ngalamin yang namanya cinta lokasi sama sahabat atau temen sendiri (Sahabat beda kelamin, ya, maksud gue). Kenapa? Alasannya bisa macem-macem. Mungkin karena sahabat kita itu tampangnya emang bikin horny dan ngegemesin sehingga timbul keinginan untuk memiliki. Atau karena kita udah nyaman dengan mereka dan udah tau kejelekan masing-masing sehingga nggak perlu lagi capek-capek berbasa-basi memperkenalkan diri. Yang karena kenyamanan itu, ujung-ujungnya malah bikin kita jatuh hati.

Semua, sih, sah-sah aja. Kalau ada hal tersubur didunia maka itu adalah cinta. Dia bisa tumbuh dihati siapa saja tanpa pernah memandang siapa mereka.

Tapi, sebelum kalian menanam benih cinta di hati sohib kalian, kalian harus tau bahwa banyak hal-hal buruk yang mungkin akan kalian panen nantinya. Juga hama-hama yang mungkin bakal mengganggu ladang cinta kalian dikemudian hari. Dan pastinya, hal-hal buruk serta hama-hama itu juga akan menyerang bahkan merusak kebun pertemanan kalian.

Intinya, sih, gue cuma mau ngingetin, jangan gegabah kalo emang mau menjalin cinta dengan teman. Kalian harus siap semisal cinta kalian ditolak. Jangan jadi cemen kayak yang gue lakukan, bersikaplah sewajarnya dan usahakan agar hubungan pertemanan kalian dapat dikembalikan seperti semula.

Kalaupun cinta kalian diterima, sadarlah kalau jadian itu bukan akhir. Masih ada kemungkinan untuk putus. Lalu apakah setelah putus nantinya kalian masih jadi teman? Mungkin, iya, mungkin, nggak. Ingatlah, nggak semua rotan bisa disimpan. Nggak semua mantan bisa jadi teman.

Kalaupun setelah putus kalian bisa temenan, pasti nggak bakalan se-enjoy dan selepas dulu lagi. Bakalan ada hal-hal yang hilang dari semangat pertemanan kalian. Entah itu gengsi lah, jaim-jaiman lah, dan lain sebagainya.  
Nggak  mudah untuk merubah status mantan menjadi teman. Apalagi misalnya kita yang diputusin tanpa sebab yang jelas pas lagi sayang-sayangnya. Beh, jangankan mau nganggep dia temen, liat muka mantan aja rasanya pengen diludahin, didudukin, dipipisin, diberakin, biar dia tau rasa sakit yang kita alamin.

Nah, gimana kalo mantan itu adalah sohib kita dahulu? Sudah siapkah kalian kehilangan teman? Kalo belum siap, mending urungkan deh niat kalian untuk macarin temen sendiri. Atau kalo yang udah terlanjur pacaran, jaga deh itu hubungan sampai ke pelaminan. Oke…

Sekian dulu cerita plus curhat colongan gue ini, semoga postingan ini ada maknanya untuk kalian, apapun itu. Ha-Ha-Ha

Kalau ada pengalaman kalian yang sama dengan gue atau sesuai dengan pembahasan gue di atas, boleh banget di share di comment box. Mari kita bahas masalah ini bersama-sama..
.


Kecup Manja.

Arie Suryawinata (@Sandalpedottt)


.

Jumat, 24 Januari 2014

Janji-Janji Yang Sering Diingkari Cowok



Beberapa hari yang lalu, gue nongkrong “sendirian” di sebuah café ditemani segelas susu vanilla hangat dan sepiring pisang bakar coklat keju yang mulai dingin karena sedari tadi hanya gue abaikan. Malam itu sedang turun hujan lebat sehingga pengunjung malam itu nggak terlalu ramai, hanya tampak beberapa orang yang sibuk dengan laptop dan gadged-nya masing-masing.

Namun tiba-tiba datang sepasang kakasih yang memecah keheningan di café itu. Mereka duduk persis disebelah gue dan langsung memesan minuman hangat ke pelayan. Dari yang gue liat, mereka sepertinya sedang dalam kondisi yang kurang baik. Karena sejak datang dan hampir 10 menit lamanya mereka hanya diam tanpa sepatah katapun yang terlontar dari mulut masing-masing.

Setelah gue perhatikan, cewek itu berwajah cantik dengan rambutnya yang hitam lurus sepunggung dan kulitnya yang putih mulus. Sedangkan si cowok, giginya berwarna kuning metalik dan diameter lubang hidungnya terlalu besar untuk ukuran manusia bumi.

Nggak lama, terlihat seorang pelayan datang menghampiri mereka, “Maaf mas, asbaknya tidak dipakai? Boleh saya ambil? Pelanggan kami yang disana membutuhkannya”. Melihat kejadian itu, gue langsung mempunyai suatu rencana. Gue bakalan datang menghampiri meja mereka kayak pelayan tadi, lalu dengan sopan, gue bakalan bilang kayak gini:

“Maaf mas, lagi berantem, ya? Pacarnya nggak dipakai lagi, kan? Boleh saya ambil? Hati saya membutuhkannya”. Selanjutnya pasti si cowok kesal dengan omongan gue, dia bakalan berdiri, mengarahkan lubang hidungnya ke gue, menarik nafas dalam-dalam, dan berusaha menyedot gue kedalam paru-parunya.

“Awww..!!” Lamunan gue seketika buyar ketika teriakan kecil keluar dari mulut si cewek. Ternyata si cowok berhidung besar tersebut mencubit lengan pacarnya itu, “Udah dong, ngambeknya…”. Ucap si cowok dengan nada memelas. Karena kesal, cewek itu membalas dengan menginjak kaki si cowok. “AWWW, SAKIT BEGO!!” cowok itu berteriak kesakitan dan keluar beberapa tetes airmata dari matanya. Ternyata cewek itu nggak sengaja menginjak  koreng di kaki si cowok yang baru aja mau mengering.

“Kamu, sih, ingkar janji sama aku!” sahut si cewek dengan nada kesal. “Ya berarti kita impas, dong. Kan kemaren kamu juga ingkar janji!!” Lanjut si cowok menjelaskan. “Tapi ini bukan yang pertama, ini tuh udah yang kesekian kalinya, tauk!!” Si cewek mulai depresi dan menunjukan jurus andalannya supaya seolah-olah yang salah adalah si cowok, yaitu:

Nangis.

Seperti biasa, si cowok akhirnya mengalah dan meminta maaf sambil memegang tangan pacarnya itu. “Maafin aku, ya”. Mendengar ucapan maaf, si cewek lalu mengusap air matanya, “iya, kali ini aku maafin. Tapi kamu harus ngaku kalo kamu itu bukan orang pinter” pinta si cewek. “Lho, kok gitu?” tanya si cowok heran. “Iya, kan orang pinter tidak akan mengulangi kesalahan yang sama. Kamu kan selalu mengulai kesalahan yang sama” jawab si cewek. “Iya, serah deh serah” ucap si cowok jengkel. Dan akhirnya mereka suap-suapan roti bakar sebagai tanda perdamaian.

Nah, berdasarkan kejadian di atas, kali ini gue mau membahas tentang “Janji-janji yang sering dilanggar sama cowok”. Postingan ini bukan bermaksud untuk mengumbar aib dan merendahkan cowok-cowok di Indonesia, tapi postingan ini dibuat hanya untuk memojokan cowok-cowok di Indonesia. Bukan untuk mengumbar aib dan merendahkan mereka. Janji-janji apa aja itu? Nih dia :


JANJI BERHENTI MEROKOK

Bagi cewek-cewek yang cowoknya lebih suka menghisap tembakau dari pada menghisap dirinya, pasti udah nggak asing lagi sama janji yang satu ini. Dan pastinya udah bosen mendengar kata 'maaf' dari cowoknya karena berkali-kali telah melanggar janji ini.

Gue sebagai perokok merasa kalo janji ini adalah janji yang paling sulit untuk ditepati. Kenapa? Karena berhenti merokok itu nggak semudah keliatannya. Ada aja alasan yang mendukung untuk kembali merokok. Lagi stress, lah, lagi bosen, lah, cuaca dingin, lah, abis makan pedes, lah, pokoknya ada aja alasan buat ngerokok. Biasanya, sih, si perokok bakalan bilang gini : “Janji, deh, ini satu batang terakhir”. Tapi apalah daya, “sebatang demi sebatang, lama-lama menjadi bukit” (Pepatah gagal).

Saran gue buat cewek-cewek yang punya pacar perokok. Jangan seenanknya sendiri ngelarang-larang cowoknya merokok. Kalian juga harus membantu dia untuk berhenti merokok. Karena terkadang orang itu butuh dorongan dari luar selain niat dari dalam dirinya sendiri. Caranya gimana? Cari aja di Google


JANJI NGGAK BAKALAN TELAT

Kita semua setuju kalo hampir semua orang Indonesia itu suka telat alias ngaret. Tapi asal kalian tau, senyebelin-nyebelinnya cowok telat, lebih nyebelin dan bikin panik lagi kalo yang telat itu cewek. Dulu gue pernah dapat sms dari mantan gue, waktu itu sekitar jam 7 pagi. Isi sms nya kira-kira gini:

“Sayang, aku telat :( “

Astagfirullah, kok bisa? Gak, itu bukan anakku! Aku gak pernah buang didalem. Pokoknya kita PUTUS!!”

“Aku telat ikut tes CPNS, bego!!”

“Oh..kirain. hehe”

“Tapi kalo aku “telat” beneran, segampang itukah kamu mau mutusin aku? Ok. Kita PUTUS!!”

“Eh…”

FYI, yang kita mau bahas disini bukan telat yang kayak gitu, tapi telat/terlambat dalam artian yang sebenarnya. Misalnya kalian mau jalan-jalan atau sekedar nonton ke bioskop pas malam Minggu. Dia janji jemput jam 4 sore sehabis Ashar, tapi sampai adzan Subuh berkumandang, dia nggak dateng-dateng. 

Beda sama cewek yang suka telat karena kelamaan dandan, alasan cowok telat biasanya lebih manusiawi. Biasanya sih nggak jauh-jauh dari ketiduran, lupa, atau ada urusan lain yang harus diselesaikan terlebih dahulu sehingga mengharuskan dia harus telat. Namun kadang-kadang ada juga beberapa cowok yang suka telat karena menikmati yang namanya ‘adrenalin rush’. Apa itu? Adrenalin rush adalah suatu kondisi dimana seseorang itu harus terburu-buru untuk melakukan sesuatu diujung waktu yang mepet. Dan sayangnya, banyak cowok yang menyukai sensasi dari adrenalin rush ini karena seru dan penuh tantangan. Termasuk gue. 

Untuk mengatasi masalah cowok yang suka telat ini, kalian para cewek cuma perlu melakukan dua hal. Pertama, “pasrah”. Kedua, “jangan punya cowok yang suka telat”. Simple, kan?


JANJI BAKALAN NGASIH KABAR

Cowok kalau udah fokus ke sesuatu yang dia suka, bakalan lupa sama dunia. Dan logikanya, sama dunia aja dia bisa lupa apalagi sama kamu yang cuma pacarnya? Susah memang kalo salah satu pihak suka lupa ngabarin dan tiba-tiba menghilang gitu aja. Sementara pihak yang lainnya selalu punya keinginan untuk memastikan pasangannya dalam kondisi baik disana. 

Dalam menjalin hubungan, komunikasi itu memang yang nomor satu. Tapi kadang, kebanyakan komunikasi juga bisa bikin hubungan jadi basi. Jadi kalo cowok kalian suka menghilang tanpa kabar, sabar aja, tunggu beberapa saat. Kalo urusannya udah selesai dia pasti ngabarin, kok. Dan ingat! Jangan ngelakuin hal-hal bodoh kayak nelpon dan sms berkali-kali. Bukannya menyelesaikan masalah, tapi malah bikin cowok risih. Kenapa? Karena dunia dia bukan cuma kamu, ada juga beberapa hal penting lain yang harus dia lakukan selain mikirin kamu. Misalnya: nonton Naruto.


JANJI NGGAK BAKAL MACEM-MACEM

Nah, ini dia janji yang sebetulnya paling banyak dilanggar oleh para cowok-cowok tulen diluar sana. Secantik apapun kalian dan secinta apapun dia dengan kalian, pasti senggaknya dia pernah sekali-duakali ngelirik kiri-kanan. 

Tapi kalian nggak perlu khawatir kalo cowok kalian kayak gitu, itu wajar kok. Biasanya cowok kayak gitu cuma buat hiburan aja, bukan buat diseriusin. Bersyukurlah kalian masih diduakan dengan wanita lain, bukan dengan pria lain.

Uniknya, bukan cuma cowok yang suka lirik kiri-kanan, kebanyakan cewek juga suka begitu. Tapi hebatnya, cewek punya dua-ribu-tujuh-ratus cara untuk menutupi perbuatannya, nggak kayak cowok yang mudah ketahuan. Ya, kan?

Tapi selama kalian memakluminya dan nggak banyak ngekang, cowok kalian nggak bakal bertindak lebih, kok. Intinya cuma rasa percaya aja, ibarat boomerang, dilempar sejauh apapun juga bakalan balik ke pemiliknya semula. Tapi kalo dia udah berlebihan kayak jadian sama cewek lain atau menghamili anak orang, jangan ragu buat putus. Karena nggak ada yang lebih buruk dari pada seorang penghianat. Dan penghianatan adalah penyakit yang bakalan sering kambuh lebih dari satu kali, jadi jangan pernah dimaafkan dan kembali padanya lagi.


JANJI NGGAK BAKALAN JADI SAHABAT DAHSYAT

“Apa rasanya kalo kalian punya pacar yang tiap pagi selalu tampil dengan poni warna-warni dan menari-nari di acara musik pagi?”

Bagi cowok-cowok tertentu, memang agak susah untuk memenuhi janji ini. “Karena udah jadi hobi, ya mau gimana lagi?”. Ini adalah penyakit yang lebih buruk dari pada penghianatan. Nggak ada jalan lain selain putus. Pokoknya kalo cowok kalian kayak gini, PUTUSIN!! Dan segeralah jadian dengan cowok lain yang bukan sahabat Dahsyat. Misalnya : Sahabat NOAH.

Sebenarnya ada banyak lagi janji-janji cowok yang sering mereka ingkari. Tapi karena takut dianggap mencemooh spesies sendiri dan dicap penghianat sama cowok-cowok yang lain, gue akhiri cukup sampai disini. Buat cewek-cewek diluar sana, jangan pernah bikin janji dengan cowok kalian jika dirasa susah untuk dia menepatinya. Karena yang jengkel nanti kalian sendiri. 

Kalo ada komentar atau pengalama lain, silahkan share di comment box, yes.

Kecup Manja,
Pemilik Sandal Pedot (@Sandalpedottt)

.