Ketika Temen Jadi Demen. . .



“Pagi semua, selamat datang di kelas sepuluh A..!!” Teriak seorang ibu-ibu bersemangat sambil membawa absensi dan beberapa buku Fisika yang dijepit diketiak kanannya. “Pagi, juga, buuu…!!” Balas kami tak kalah bersemangat menyambut hari pertama di bangku SMA.

“Baiklah, nama saya Miranda, saya wali kelas pertama kalian di sekolah ini. Kalian semua harus ikuti permainan saya kalau mau selamat sampai UAN. PAHAM SEMUA?!!” Ibu-ibu itu menjelaskan dengan mimik muka serius dan suara yang lantang, sejenak dia terlihat seperti seorang komandan pasukan pemberontak wanita dari Palestina.

“PAHAM, BU!!” Seluruh kelas menjawab dengan ekspresi shock dan ketakutan. Bahkan karena suara keras dari ibu itu, ada beberapa siswa yang gendang telinganya bernanah.

Selanjutnya, bu Miranda menjelaskan mengenai peraturan-peraturan yang akan diterapkan di kelas, dan disinilah kebiasaan jelek gue muncul. Gue nggak lagi fokus ke ibu Miranda, mata gue tiba-tiba bergerak sendiri keseluruh penjuru kelas. Mencari siapa kira-kira siswi betina yang cukup buta untuk gue jadiin pacar. Maklum, lah, namanya juga sekolah baru, harus dibarengi dengan pacar baru. Pikir gue.

Sedang asik-asinya memandangi siswi-siswi dikelas, tiba-tiba…

*Kleek.* Terdengar suara benda yang terjatuh ke lantai.

“Maaf, bisa tolong ambilin pena saya nggak? Itu, dibawah meja kamu.” Suara lembut seseorang dari sebelah kiri memecah konsentrasi gue. Spontan, tanpa melihat kearah sumber suara kepala gue langsung menunduk dan mengambil pena biru didekat kaki meja.

“Ini…” Ucap gue sambil menyerahkan pena itu kepemiliknya.

“Makasih…” Jawabnya sambil melempar senyum. Tanpa ekspresi apa-apa gue langsung melanjutkan kegiatan curi-curi pandang kearah siswi-siswi dikelas itu yang tadi sempat terhenti. Selang beberapa saat, gue seolah baru menyadari sesuatu! Sepertinya ada hal janggal yang nggak gue sadari. Tanpa ba-bi-bu gue langsung membanting muka kesebelah kiri, kearah datangnya suara lembut tadi.

“Subhanallah.” Bisik gue lirih dengan tatapan kagum yang elegan.

“Hmm?” Si pemilik pena menoleh lagi kearah gue dengan tatapan penuh tanya tapi tetap menjaga tingkat keimutannya.

Sumpah demi Farhat Abbas, ternyata cewek yang duduk disebelah gue itu cantik banget. Sorot matanya tajam dan bening kayak lensa kamera SLR beresolusi tinggi milik ibu negara. Bibirnya tipis dan berwarna alami tanpa sentuhan lipstik. Kulit wajahnya putih bersih, dihiasi dengan rambutnya yang ikal bergelombang sebahu. Kalo diliat dengan seksama, entah karena pikiran gue yang ngeres, gue menyimpulkan kalo cewek ini mirip dengan Miyabi, cuma beda domisili dan lebih memiliki cita rasa seorang betina pribumi.

“Arie, lo jatuh cinta. Ini cewek yang lo cari. Pokoknya lo harus jadiin dia pacar!” Ucap gue bersemangat di dalam hati. Gue kalap dan nggak mikir lagi apakah cewek secantik itu mau sama cowok yang mukanya mirip mamang-mamang penjual bakso berformalin kayak gue. Maka, dipertemuan pertama kami hari itu, gue nekad ngajak dia kenalan dan berhasil. Kenalannya gimana? Kami salaman!

Dan hari itu adalah hari pertama kami menjalin hubungan. Hubungan ‘pertemanan.’

Singkat cerita, sudah hampir empat bulan lamanya kami menyandang status sebagai ‘teman.’ Dalam kurun waktu yang cukup lama itu, hal terintim yang pernah kami lakukan adalah teguran. Iya, cuma sebatas teguran. Nggak ada perkembangan lain. Ngobrol jarang, telponan nggak pernah, tidur berdua apalagi. Gue masih terlalu cemen dan lugu waktu itu. Gue takut kalo sering-sering telponan, nanti dia hamil.

Namun, karena rasa kagum yang teramat sangat dan dorongan syahwat yang sudah tidak terbendung. Akhirnya gue memberanikan diri nembak dia. Gue sudah menyusun rencana, dan rencana ini selalu gue pakai kalo mau nembak cewek. Sepulang sekolah gue nganterin dia pulang. Di depan rumahnya, sewaktu dia mau masuk rumah dan sudah berjalan membelakangi gue, tangannya bakalan gue pegang dari belakang. Secara otomatis dia bakalan menoleh unyu ke belakang, kearah gue. Dan ketika kami sudah saling berhadap-hadapan, inilah saatnya gue melontarkan kalimat haram jadah itu.

“Ka…kamu mau nggak, jadi pacar aku?” Tanya gue serius. Kebetulan suasana waktu itu mendukung banget. Komplek perumahan dia sedang sepi tanpa ada aktivitas apapun dan dari siapapun. Pas banget semisal cinta gue ditolak nantinya, gue bakalan langsung nyulik dia dan minta tembusan ratusan juta ke orang tuanya plus minta dinikahin.

“Maksudnya?” Dia balik bertanya dengan ekspresi muka kebingungan. Entah gue yang ngomongnya nggak jelas atau memang dia yang pura-pura bego’ sehingga nggak ngerti yang gue omongin barusan. Biasalah betina remaja emang sering gitu.

“Iya, kamu mau nggak jadi pacar aku?” Tanya gue sekali lagi menjelaskan. Dan kali ini gue yakin tutur bahasa serta kejelasan suara gue udah maksimal banget. Kalau dia masih bingung atau nggak denger, pupuslah sudah harapan gue untuk mendapatkan seorang pacar yang cerdas dan nggak budeg.

Dia diam beberapa saat seperti kebingungan dan sedang memikirkan sesuatu. Nggak lama, mulutnya bergerak dan berucap, “I…iya.” Jawabannya singkat dan sedikit ragu, tapi suaranya terdengar cukup jelas ditelinga gue.

“Maksudnya?” Sekarang gantian gue yang pura-pura bego’. “Jadi aku diterima? Jadi sekarang kita pacaran?” Sambung gue bersemangat dan langsung melakukan tari Kecak didepan pagar rumahnya.

“Iyaaa…..nggak juga, kita temenan aja, ya!!”

*DANG*

Tarian Kecak gue berhenti seketika dan langsung berubah menjadi tarian penangkal petir. Iya, tarian untuk menangkal petir yang menyambar-nyambar hati gue!. Selamat tinggal Miyabi pribumi, pupus sudah harapanku untuk memilikimu.

“Oh, yaudah, gak apa-apa, kok. HE-HE-HE.” Jawab gue sok tabah, sok nerima, sok kuat, sok nggak pengen nangis.

Akhirnya gue langsung pulang detik itu juga dan meninggalkan dia di depan rumahnya sendirian. Gue pulang dengan membawa kekecewaan dan perasaan malu yang tak terhingga. “Mampus gue kalo temen-temen yang lain tau. Pasti gue bakalan diledek habis-habisan” Ucap gue panik. Hari itu gue berencana untuk pindah sekolah ke benua lain. Tapi karena nggak ada dana, akhirnya nggak jadi.

Besoknya, gue datang ke sekolah dengan perasaan was-was. Karena setau gue, diledekin temen-temen karena ditolak cewek itu, sama malunya dengan diledekin temen-temen karena ditolak cewek. Ya, Pokoknya gitu lah. Gue memang kurang cerdas dalam membuat perbandingan.

Gue masuk ke kelas dengan ragu. Karena masih pagi didalam kelas hanya ada beberapa siswa yang datang. Didepan meja guru gue liat dia dan beberapa temen betinanya sedang ngomongin sesuatu. Gue berjalan lunglai dan duduk diam dibangku gue dengan perasaan yang kacau. Entah kenapa pagi itu gue jadi sensitif, setiap mereka ketawa, gue langsung ngerasa kalo mereka sedang ngomongin gue. Pejantan yang tertolak ini.

Setengah jam kemudian, semua siswa sudah memenuhi kelas. Syukurlah sampai saat ini belum ada hinaan-hinaan keji dari mulut temen-temen gue. Sepertinya dia “belum” ngasih tau siapa-siapa tentang kejadian kemaren. Alhamdulillah…

Sehari…

Dua hari…

Tiga hari…

Semua aman terkendali. Gue pun udah lebih merasa aman dan yakin kalo dia cukup pengertian dengan nggak ngasih tau ke siapapun tentang insiden hari itu. Tapi tiba-tiba, disuatu hari yang cerah ditengah jam pelajaran Biologi, temen gue Rio yang duduk disebelah kanan gue ngelempar sepucuk kertas kearah gue.

“Opo iki?” Tanya gue kepada Rio yang merupakan blasteran Sumatera-Jawa.

“Buka…buka…” Bisik Rio sambil tersenyum menunjuk kertas itu.

Dengan penasaran, gue segera membuka lipatan kertas itu. Gue sempat mengira isi kertas itu adalah gambar guru Biologi kami yang kepalanya diganti jadi kepala hewan-hewan purbakala sama Rio. Kalo sedang bosan ditengah jam pelajaran, kami sering melakukan hal itu. Hampir semua guru sudah kami ubah bentuk kepalanya tergantung selera dan  pesanan. Bagi kami, kegiatan seperti itu adalah kegiatan positif. Selain dapat hiburan, keterampilan seni kami juga bertambah. Begitu pula dengan dosa kami. Semakin bertambah.

Gue buka lipatan demi lipatan, terlihatlah gambar dua orang sedang berpegangan tangan. Yang satu terlihat cantik seperti gambar wanita manga dengan matanya yang besar sedang tersenyum, sedangkan yang satunya berbadan seorang manusia tapi kepalanya diganti jadi kepala kadal Jawa. Dan dibawah gambar itu ada tulisan berbahasa Inggris yang di tulis oleh Rio dengan kemampuan berbahasa Inggris-nya yang jauh di bawah rata-rata anak TK. Tulisannya adalah “Arie <3 Diana, biuty end debis”.

*DANG*

Gue diam, badan gue meriang. Bukan, gue bukan shock karena kepala gue disamakan dengan kepala kadal Jawa. Itu sih udah biasa. Yang jadi masalah adalah, Rio yang nggak terlalu akrab dengan Diana (nama cewek si pemilik pena itu) sudah tau masalah ini. Logikanya, ketika yang tidak akrab saja sudah tau, apalagi yang akrab? Dan parahnya lagi, Diana akrab dengan seluruh teman sekelas kecuali Rio dan Gue. Jadi dapat disimpulkan kalau seantero kelas sudah tau masalah ini!

Abut nyawa Aim ya Allah…

Fix, mulai hari itu semua kelas ngeledekin gue. Sejak langkah pertama gue memasuki kelas di pagi hari, sampai langkah pertama gue keluar kelas disiang hari. Mereka selalu ngeledekin gue disetiap kesempatan.

Sejak saat itu lah, walaupun gue dan Diana duduk sebelahan, tapi kami nggak pernah teguran lagi hingga setamatnya kami dari SMA itu. Terlepas dari ledekan temen-temen sekelas, gue akui kalau memang ada perasaan canggung dalam hubungan pertemanan kami dan itu mendorong kami untuk nggak saling menyapa dalam waktu yang cukup lama. Pena dia kalau jatuh ke meja gue selalu dia ambil sendiri tanpa pernah permisi atau minta tolong lagi ke si pemilik meja. Gue selalu bertanya-tanya, kenapa pena dia selalu jatuh ke meja gue, tapi hatinya nggak pernah jatuh kepelukan gue? Entahlah…

Nah, dari kisah nyata gue barusan itu, gue mau memberi tau kalian kalau ternyata “temen yang jadi demen” itu harus diwaspadai. Karena kalau belum cukup ilmu, akibatnya bisa fatal banget. Kayak gue barusan yang jadi nggak teguran selama 3 tahun lamanya sama temen sekelas gue sendiri.

Gue yakin walaupun nggak sampai pacaran, pasti kalian pernah ngalamin yang namanya cinta lokasi sama sahabat atau temen sendiri (Sahabat beda kelamin, ya, maksud gue). Kenapa? Alasannya bisa macem-macem. Mungkin karena sahabat kita itu tampangnya emang bikin horny dan ngegemesin sehingga timbul keinginan untuk memiliki. Atau karena kita udah nyaman dengan mereka dan udah tau kejelekan masing-masing sehingga nggak perlu lagi capek-capek berbasa-basi memperkenalkan diri. Yang karena kenyamanan itu, ujung-ujungnya malah bikin kita jatuh hati.

Semua, sih, sah-sah aja. Kalau ada hal tersubur didunia maka itu adalah cinta. Dia bisa tumbuh dihati siapa saja tanpa pernah memandang siapa mereka.

Tapi, sebelum kalian menanam benih cinta di hati sohib kalian, kalian harus tau bahwa banyak hal-hal buruk yang mungkin akan kalian panen nantinya. Juga hama-hama yang mungkin bakal mengganggu ladang cinta kalian dikemudian hari. Dan pastinya, hal-hal buruk serta hama-hama itu juga akan menyerang bahkan merusak kebun pertemanan kalian.

Intinya, sih, gue cuma mau ngingetin, jangan gegabah kalo emang mau menjalin cinta dengan teman. Kalian harus siap semisal cinta kalian ditolak. Jangan jadi cemen kayak yang gue lakukan, bersikaplah sewajarnya dan usahakan agar hubungan pertemanan kalian dapat dikembalikan seperti semula.

Kalaupun cinta kalian diterima, sadarlah kalau jadian itu bukan akhir. Masih ada kemungkinan untuk putus. Lalu apakah setelah putus nantinya kalian masih jadi teman? Mungkin, iya, mungkin, nggak. Ingatlah, nggak semua rotan bisa disimpan. Nggak semua mantan bisa jadi teman.

Kalaupun setelah putus kalian bisa temenan, pasti nggak bakalan se-enjoy dan selepas dulu lagi. Bakalan ada hal-hal yang hilang dari semangat pertemanan kalian. Entah itu gengsi lah, jaim-jaiman lah, dan lain sebagainya.  
Nggak  mudah untuk merubah status mantan menjadi teman. Apalagi misalnya kita yang diputusin tanpa sebab yang jelas pas lagi sayang-sayangnya. Beh, jangankan mau nganggep dia temen, liat muka mantan aja rasanya pengen diludahin, didudukin, dipipisin, diberakin, biar dia tau rasa sakit yang kita alamin.

Nah, gimana kalo mantan itu adalah sohib kita dahulu? Sudah siapkah kalian kehilangan teman? Kalo belum siap, mending urungkan deh niat kalian untuk macarin temen sendiri. Atau kalo yang udah terlanjur pacaran, jaga deh itu hubungan sampai ke pelaminan. Oke…

Sekian dulu cerita plus curhat colongan gue ini, semoga postingan ini ada maknanya untuk kalian, apapun itu. Ha-Ha-Ha

Kalau ada pengalaman kalian yang sama dengan gue atau sesuai dengan pembahasan gue di atas, boleh banget di share di comment box. Mari kita bahas masalah ini bersama-sama..
.


Kecup Manja.

Arie Suryawinata (@Sandalpedottt)


.

39 komentar:

  1. Oh.. Mungkin hidup lo terlalu biasa-biasa aja. Jadi enggak terlalu menarik cewek itu. Tapi kalo nembak temen sekelas terus ditolak emang malunya nyiksa abis. Gue pernah sih kayak gitu..

    Kalo cerita ini umurnya sampe 3 tahun elo enggak ngobrol2 lagi sama cewek itu, terus episode Linn itu waktu elo kelas berapa? Kalo gak salah, itu juga sekelas kan ya?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah, yang Linn itu pas kelas 3 SMA. Kalo yg ini kelas 1 pas baru masuk bang. Pacar gue memang selalu temen2 gue sendiri, nggak berkembang..hahahaha

      Hapus
  2. Setiap kali baca tulisan lo gue selalu ngakak dan bisa belajar menulis komedi dari struktur tulisan lo, meskipun bgitu gak mudah gue nulis komedi biar keren yang ada malah kebanyakan garingnya.

    Bener, nasib kita sama. Sama sama ditolat. Tapi mendingan lo, masih di "iyain" gue boro-boro. Sumpah, demi Farhat abas gue nyeseknya dalem.

    Bener, kita sebagai cowok jangan gegabah menyimpulkan sesuatu, entar yang ada malah ditolak lagi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah gue belum sejago itu kali. Ya intinya sih belajar terus aja, pikirin bener2 mana2 aja kejadian atau kalimat yang sekiranya lucu...

      Hapus
    2. Perasaan bayu sering muji lo kalo dia koment rie. Astagaa.. Ternyata lo idola para lelaki. Apakah gue gak sepeka lelaki lain sampe gue gak tertarik sama lo ri -__-"

      Hapus
    3. Nggak gitu juga, sih... kok gue jadi kayak terong2an gini...

      Hapus
  3. hahahaha lucu ceritanya. aku juga pernah kok kayak gini :|
    tapi untung aja semuanya bungkam. jadi nggak ketahuan deh haha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Haha..thanks
      Wah enak tuh, beda sama gue... mana sekalas isinya tukang ngeledekin semua

      Hapus
  4. Gue dulu pernah menjalin hubungan dengan sahabat gue sendiri. Bener kata lo, kalo belum cukup ilmu, akibatnya fatal banget. Gue sama dia putus.. lalu lost contact sampe sekarang. *DANG!*

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mending sih masih bisa ngerasain yang namanya jadian. Lah gue, jadian nggak, ditolak n musuhan iyaaaa

      Hapus
  5. wah lo ditolak tuh ceritanya.
    aduh, resikonya malah jadi canggung ya bertemen ma dia.
    kalo dah gt mending cari pacar baru biar move on & brenti diledekin.

    gw jdian ma shbt sndiri, ampe skrg masih beres2 aja hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, bukan masalah nyeseknya, sih. Tapi canggungnya...kalo masalah move on mah, itu soal gampang bagi gue...kayaknya. hahaha

      Hapus
  6. nahhh...itu susahnya kalo ada cinta dalam persahabatan...kalo endingnya gaenak,. bakalan susah banget untuk kembali ke hubungan persahabatan... secara nggak semua orang bisa balik ke status "temen" dari status "mantan"...
    mending berteman aja sampai suatu saat bisa nikah.. *kalo-jodoh...hahaha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ya emang... tapi yang namanya hati, nggak pandang temen, musuh aja bisa dipacarin..hahaha

      Hapus
  7. Sumpah. Ini critanya sama persis dgan yg gue rasain. Entah knpa gue jga naksir sma sahabat gue. Tpi.... Hduh. Gue jga bngung sma dri gue sndri

    Lah... Lo msa gara" gtu ga prnah nyapa lagi? Bseettt syang bget loh. Pdhal ckep kan yak? Yah elah, bro.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Pengen sih nyapa, tapi apa daya, rasa canggung sudah melanda. Terus entah kenapa, gue nggap pernah punya kepentingan sama dia, begitupun sebaliknya. Jadi nggak punya alasan untuk nyapa...

      Hapus
  8. yaah...sohibku cewek. dan aku beruntung nggak naksir dia. sabar ya kak...
    :v

    BalasHapus
    Balasan
    1. Jangan. Kalo kasusnya kayak gitu gue sangat nggak nyaranin lo macarin sahabat lo. Ntar gue lagi yang dosa..hahah

      Hapus
  9. ari gue nggak nyangka manusia setengah kadal kaya lo bisa juga jatuh cinta sama cewe dan tragisnya lo ditolak bhahahaha :))

    enak nih tulisan lo bro, gue jadi belajar juga tentang nembak-menembak temen cewe.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Jadi selama ini lo pikir gue kadal penyuka sesama jenis? hahaha

      Inget ya pik, gue ngajarin buat jangan nembak temen cewek lo, jangan salah kaprah terus lo malah jadi nembak mereka!!

      Hapus
  10. Ari keren nih, biarpun curhat masalah ditolak cintanya, tapi masih bisa ngasih wejangan yang bijak. apa itu cuman ngeles aja biar dibilang cowwok tegar? hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Gue keliatan kayak lagi curhat yak? hahaha. Sumpah, niat gue bukan itu...

      Hapus
  11. yak, gue setujah sama Bayu kalo tulisanmu itu lucu oroginal dan di tengah tengah kegetiran yg menerpa, tersirat kegelian kegelian ...ya gitu deh, sabar yaaak..semoga Miyabi baca dan sadar...aamiin.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih mbak meykke...love you pull dah. hahaha
      Gue nggak berharap dia baca, gue takut dia terharu dan malah ngejer2 gue. jujur, gue nggak siap!!

      Hapus
  12. Ahh lo terlalu cepet nembak men... Kalem dulu. Atau harusnya pas lo nembak jangan langsung minta jawabannya, minta jawabannya 3 Bulan lagi, biar lo punya waktu ke dukun buat jampi2 si Diana #ehh

    Iya gue juga pernah suka sama temen deket, tapi yaa.. Gak pernah nyatain, biarlah dia menjadi kekasih hati gue #Hazeegg :3

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah.gue nyesel baru kenal lo sekarang bang. Saran lo boleh juga, nggak kepikiran sama gue dulu. hahaha

      Nyatain aja, kalo di tolak..bialng aja lagi latihan drama..hahaha

      Hapus
  13. Kalo kecepeten nembak, si ceweknya takut kalo cowoknya itu suka sesaat terus ngeliat ada yang cantik, dia ditinggal, hehehe

    Pasti pertemanan antara cewek dan cowok itu mau gak mau ada bunga - bunga asmara yang tumbuh. Ya, sabar yah kak, semangat :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah...ini kayaknya nasehat dari dalem hati nih. Bisa gue jadiin ilmu tambahan juga..hahaha
      Ya kadang bunga2 itu memang harus tumbuh, tapi sayang pekarangannya nggak mau di tumbuhi bunga..hahhaa

      Hapus
  14. cerita lo kocak bikin ngakak, tapi menurut gue lebih cocok dikata malu karna ejekan temen lo yang bikin kalian berdua speechless
    eeh tapi beneran itu cewe mirip miyabi?

    BalasHapus
  15. ASTAGFIRULLAH... ternyata dirimu membacanya. Ha-Ha-Ha
    Jarang2 ada tokoh utama yang komen disini..
    Iyaaa, begitulah DIANA ARDILA. Dulu itu ada perasaan canggung, malu, plus ejekan temen2. Mangkanya kita lama nggak teguran..
    Tapi sekarang kan, semua udah balik kayak dulu lagi,,hehehe

    Miyabi? Ah, siapa yang bilang??
    Hmm...cuaca cerah yaa? Ha-Ha-HA

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah ada perubahan, sarannya mantap kasih jempol 5 buat kamu

      ga sabaran mau baca tentang Linn! hehehhe

      Hapus
    2. Opss...udah tau y ttg Linn?? Jangan kasih tau ke Linn y..malu ah. hahahaha

      Hapus
  16. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  17. udah bisa buat novel bang, salam dari angkatan '13 FH UMY :D

    BalasHapus
  18. Hahahahahahahaha......
    Lucu banget ini

    Ada tarian penangkal petir, fix gw ngakaaaak

    BalasHapus
  19. makasih gan buat infonya dan semoga bermanfaat

    BalasHapus
  20. mantap bos artikelnya dan salam kenal

    BalasHapus
  21. terimakasih bro tentang infonya dan salam sukses

    BalasHapus