Rabu, 02 April 2014

Dear Tia...



Aris adalah salah seorang temen gue yang udah bosen dengan kesendiriannya. Dia udah jomblo selama kurang lebih 7 tahun 29 hari. Nggak heran kalo sekarang dia ngebet banget dan “wajib” punya pacar sebelum dikatain homo sama seisi kampus.

Setiap ada cewek yang tak berpemilik, Aris selalu mencoba mendekati mereka dengan jurus-jurus mautnya. Namun karena terlalu agresif dan tergesa-gesa, usaha Aris itu selalu gagal dengan sukses!

Mungkin karena udah sangat lama nggak pacaran, Aris lupa kalo yang sedang dia deketin itu adalah manusia, bukan hewan mamalia yang sekali di deketin langsung bisa diajak berkeluarga.

Hingga suatu hari, ada seorang cewek yang merasa klop dengan Aris. Seorang cewek yang memandang Aris dari sudut pandang berbeda dari cewek-cewek lainnya yang pernah Aris dekati. Dan hal itu, secara otomatis langsung membuat Aris sangat tergila-gila kepadanya.


Kejadian ini bermula sekitar 3 bulan yang lalu. Waktu itu dikampus gue sedang ada Ujian Akhir Semester. Aris yang merupakan seorang mahasiswa angkatan 45 dan sudah bebas teori, mendaftar sebagai pengawas dalam ujian tersebut. Dan siang itu, setelah selesai mengawas, Aris datang ke gue dengan tampang sumringah kayak bapak-bapak yang baru saja berhasil meniduri anak SMA.

“Men, gue barusan kenalan sama Maba (Mahasiswa Baru)!!”

“Wih, yang bener? Terus-terus??” Tanya gue penasaran.

“Iya. Namanya Tia. Dia mirip Arumi Bachsin! Tadi gue ngawasin dia pas ujian, dan sebelum dia keluar, gue ajak dia kenalan. Duh, gue jadi nggak sabar pengen jadian sama dia. Hahaha”

Mengingat sangat kecilnya kemungkinan cewek sekelas Arumi mau sama cowok berwajah mekanik pesawat tempur kayak Aris, gue cuma mengiya-iyakan aja. Biarlah temen gue ini sesekali merasakan indahnya dunia cinta. Supaya hatinya nggak mati rasa dan lupa gimana rasanya dibelai wanita.

“Wah keren-keren. Kejar terus, men! Lo pasti bisa!!” Ucap gue menyemangati Aris.

“Oke sip, thanks ya, men!”

“Eh..Udah dulu ya, gue mau pulang. Mau ngasih tau emak gue di kampung tentang kabar bahagia ini.” Sambung Aris berapi-api.

“I-iya”  Jawab gue sedikit heran dengan perkataan Aris barusan. "Ngapain dia ngasih tau emaknya?" pikir gue dalem hati. Oh... Mungkin di kampung Aris, kenalan sama cewek itu sama artinya dengan lamaran!.

Besoknya, pas gue lagi duduk di lobby kampus sambil nungguin dosen, Aris datang dari arah parkiran menuju tempat gue duduk. Aris datang dengan senyuman yang amat-sangat-teramat-lebar, memamerkan giginya yang kuning langsat, dipenuhi oleh karang dan sisa-sisa makan siang.

Setelah gue perhatiin, tenyata ada yang berbeda dari penampilan Aris hari ini. Dia keliatan lebih rapih dari biasanya dan juga lebih wangi. Kemejanya dimasukin ke dalem dan sepatunya mengkilat-kilat kayak lampu diskotik yang abis diperbaiki. Rambutnya juga terlihat basah dilapisi Pomade dan tersisir simetris ke arah kanan. Tapi sayang, karena mukanya yang tua ditambah lagi dandanannya yang seperti itu, Aris lebih terlihat seperti Wakli Rektor dari pada seorang mahasiswa.

“Rapih amat. Mau kemana lo?” Tanya gue.

“Iya dong. Ini semua demi Tia”

“Emang kalian mau kemana? Dinner??”

“Nggak, kok…”

“Mau nonton?”

“Nggak, juga…”

“Oh, gue tau. Kalian pasti mau ngobrol-ngobrol unyu di taman? Iya kan?”

“Bukan, juga…”

“Terus mau ngapain??!!” Tanya gue sedikit emosi.

“Liat aja bentar lagi…”

Nggak lama setelah itu, dateng seorang cewek berkulit putih, cantik, tapi nggak terlalu tinggi. Gue langsung bisa menebak, pasti itu Tia. Karena pas cewek itu datang, Aris sempat kejang-kejang beberapa saat dan menunjukan gejala seperti orang yang akan meninggal dunia.

Ketika lewat didepan kami, Tia tersenyum ke Aris dan sesegera Aris juga membalas dengan senyuman terbaiknya. Lalu Tia masuk kelorong kelas dan menghilang begitu saja. Tapi Aris, belum juga berhenti tersenyum.

Saat itu juga, masih dengan senyumnya, Aris berkata, “Itu dia alasan gue mandi dan rapih hari ini!”

“Buat itu?” Sahut gue.

“Iya, men!”

“Cuma buat ketemuan 2 detik sama Tia?”

“Iya…”

“Udah, cuma buat gitu doang?” Tanya gue masih belum yakin.

“Iya, udah, cuma buat gitu doang. Itu aja udah cukup banget buat gue…” Aris semakin melebarkan senyumnya.

Waktu itu gue lupa kalo Aris sedang jatuh cinta. Karena bagi orang-orang yang sedang jatuh cinta, semua dilakukan tanpa perlu logika. Sebab jatuh cinta itu bukan urusan akal pikiran, tapi wewenang penuh dari hati dan perasaan.

Satu minggu setelah adegan lempar senyum itu, hubungan Aris dan Tia terlihat semakin meyakinkan. Dari cerita Aris, dia udah berhasil dapetin nomer hape, pin BB, Twitter, Facebook, Line, Path, dan segala sesuatu yang bisa digunakan untuk berkomunikasi dengan Tia. Mereka berdua juga udah sering BBM-an dan telpon-telponan hampir tiap malem. Bahkan nggak jarang Tia yang berinisiatif duluan untuk menghubungi Aris. Secara teori, itu artinya Tia juga punya ketertarikan yang sama terhadap seekor tapir jantan bernama Ahmad Faris Hutapea.

Nggak cukup sampai disitu, ketika gue sedang ngadem sambil menjarah buku-buku di perpustakaan untuk dibawa pulang, Aris tiba-tiba muncul dengan ceria bak seorang malaikat yang baru saja mendapatkan wahyu pertamanya. Dia bilang kalo barusan dia dan Tia abis makan siang bareng di kantin kampus dan mereka ngobrol banyak tentang kehidupan masing-masing pihak.

Yak, itulah kali pertama Aris dan Tia ketemuan secara langsung. Dan sejak saat itu, mereka nggak cuma saling mengenal lewat media sosial, tapi juga lewat percakapan dari hati ke hati.

Perlahan-lahan, Aris mulai mengenal sosok Tia dengan baik, karena disetiap percakapannya, Aris selalu memperhatikan setiap detail karakter Tia. Gimana cara Tia ngomong, apa saja hal yang bisa membuat Tia ketawa, sampai seberapa besar diameter lobang hidung Tia kalo lagi bersin. Semua hal itu diperhatikan oleh Aris. Harapannya cuma satu, Aris ingin menjadi orang yang paling mengerti Tia di dunia ini dan berharap Tia akan nyaman ketika bersamanya.

Bahkan, sangking besarnya perhatian Aris terhadap Tia, Aris sampai-sampai menghapal jadwal kuliah Tia. Hari apa dan jam berapa aja Tia masuk kuliah. Bukan apa-apa, Aris melakukan itu agar dia tau kapan Tia akan keluar dari kelas. Dan ketika Tia keluar kelas nantinya, Aris sudah siap sedia menunggunya di lobby untuk memberikan senyuman ke orang yang sangat dikaguminya itu.

Pernah juga suatu waktu, Aris minjem motor gue buat ngajak Tia jalan. Bukan karena Aris nggak punya motor, tapi karena motornya adalah golongan motor-motor illegal tak ber-BPKB!!

“Lo mau kemana emang?”

“Gue mau les bahasa Inggris di UGM, pinjem motor lo yak? Motor gue nggak ada BPKB nya. Ntar malah ditilang lagi. Kan ribet ngurusnya..” Pinta Aris.

“Ah, beneran lo mau les?” Tanya gue masih belum yakin.

“Iya, beneran!”

“Beneraaaaaaaan….??!!”

“Iyaaaaaaaaa nggak juga, sih. Gue mau ngajak Tia jalan. Plis, men. Gue minjem motor lo ya. Soalnya ini pertama kali gue dan Tia jalan bareng. Nggak lucu semisal gue nanti di tilang cuma karena motor gue nggak ada BPKB nya. Ya..ya..ya?” Aris menunjukan ekspresi wajah memelas. Tapi menurut gue, ekspresi wajah dia itu nggak memelas sama sekali, tapi malah menjijikan!.

“Ya udah, lo pake deh. Tapi ntar balikinnya ke kost gue, ya. Terus bensinnya jangan lupa diisi..”

“Okesip. Thanks, ya, men. Hehehe”

Sekedar informasi, gue mau minjemin motor bukan karena iba liat muka Aris, tapi gue cuma mau liat temen gue itu bahagia. Selain itu, gue juga mau motor gue jadi saksi sejarah jadiannya seorang wanita nan cantik jelita dengan seorang pria nan ancur rupawan!

Setelah mereka pergi berdua, malemnya, Aris datang ke kost gue buat balikin motor. Tapi abis itu dia nggak langsung pulang. Aris cerita dulu panjang lebar tentang bahagianya dia bisa pergi bersama Tia hari ini. 

Dia nyeritain gimana nyamannya pas duduk disebelah Tia di bioskop, gimana cantiknya Tia ketika sedang serius nonton film dan Aris diam-diam memperhatikannya, gimana deg-degannya Aris pas megang tangan Tia untuk pertama kalinya, modus-modus apa aja yang udah dia berikan ke Tia, dan dia juga nunjukin foto selfie mereka berdua ketika makan malam bersama disebuah café sehabis nonton film. Iya, dia memamerkan itu semua ke gue, sang pria tak berpasangan ini!! Gue baru tau, ternyata Aris gitu orangnya..huft!

Hari demi hari, minggu demi minggu, kisah cinta Aris dan Tia berjalan begitu saja. Mereka terlihat semakin akrab dan sudah beberapa kali jalan bareng. Bisa dibilang, inilah momen yang tepat untuk Aris mengungkapkan isi hatinya kepada Tia.

Namun, tiap gue nyuruh dia buat nembak Tia, Aris selalu menolak dan bilang, “Gue belum yakin, men! Gue nggak mau gegabah! Gue baru mau bilang cinta kalo gue merasa waktunya udah bener-bener tapat. Dan entah kenapa, menurut gue sekarang belum waktu yang tepat untuk gue bilang cinta ke Tia!”

Waktu itu gue cuma bisa mendukung pemikiran Aris. Gue nggak mau mendesak dia. Karena gue disini cuma penonton yang hanya bisa memberikan komentar terhadap adegan yang sedang disaksikan. Sedangkan Aris dan Tia adalah sang tokoh utama yang mengatur jalannya cerita.

Ternyata, benar saja. Nggak lama setelah Aris bilang begitu, semua keraguannya terhadap Tia terjawab!

Sore hari dikampus, Aris meminta gue untuk menemuinya di lobby lantai 2 fakultas hukum. Wajah Aris hari itu terlihat pucat dan kebingungan. Dia menunjukan chat dari seorang cowok bernama Niko. Niko adalah junior kami di kampus. Dari isi chat yang gue baca, Niko ingin mengajak Aris untuk bertemu berdua. Dan di chat itu Niko juga sedikit menjelaskan tema yang ingin dia bicarakan ke Aris. Yaitu tentang Tia.

Akhirnya mereka sepakat untuk bertemu di lobby lantai satu. Aris melarang gue untuk ikut bersamanya. Dia ingin pergi sendiri sebagai seorang lelaki jantan. Gue sempet khawatir kalo mereka berdua bakal melakukan hal yang sangat bodoh untuk dilakukan oleh dua orang cowok yang sedang kasmaran : Berantem gara-gara cewek!.

10 menit…

20 menit…

30 menit…

Gue menunggu dengan perasaan yang benar-benar gelisah dan penasaran. Sampai akhirnya, Aris muncul juga dari tangga dengan senyumannya yang dingin.

“Gimana-gimana?!!” Tanya gue sangat-sangat penasaran.

“Semua udah jelas, men. Ternyata keraguan gue selama ini berasalan. Niko itu cowok Tia. Mereka udah jadian enam bulan yang lalu!” Jawab Aris sambil tersenyum maksa. Gue tau Aris waktu itu cuma sok tegar, sok nerima, dan sok tabah. Padahal hatinya udah hancur sehancur-hancurnya.

“Ha??!! Terus tadi kalian ngomongin apa aja?” Sambung gue.

“Ya cuma ngomongin itu kok. Nggak ada ngomongin apa-apa lagi” Jawab Aris dengan tatapan kosong ke depan.

Gue diem sejenak, nggak tau respon apa yang harus gue berikan ke Aris. “Yaudah lah, men. Mungkin Tia emang nggak pantas buat lo.” Ucap gue standar, mencoba menyemangati Aris dengan kalimat seadanya.

“Iya…” Aris mulai menunjukan ekspresi yang sebenarnya dari lubuk hatinya. Dia keliatan kecewa dan bingung. Siapa yang harus disalahkan atas insiden ini? Tia? Niko? Atau malah dirinya sendiri?

Tiba-tiba, “Tenggg…” hape Aris bunyi. Ternyata itu voice note dari Tia yang isinya permintaan maaf karena dia sudah membohongi Aris selama ini.

Aris mendengarkan dengan seksama sepatah demi patah kata yang disampaikan oleh gadis yang udah menyakitinya itu. Mencoba meyakinkan dirinya sendiri bahwa ini benar-benar terjadi dan bukan hanya mimpi.

Setelah suara Tia berhenti, Aris kembali diam dan berfikir sejenak. Dia lalu mencoba membalas pesan itu. Tapi berbeda dari biasanya, dimana Aris membalas pesan Tia dengan antusias dan tersenyum merona. Kali ini Aris membalas pesan dari Tia dengan tidak sama sekali menunjukan kebahagiaan di wajahnya.

“Iya, aku maafin kok. Mungkin aku yang terlalu berharap sama kamu. Aku juga minta maaf ya!.”

Setelah mereka berdua saling melontarkan permohonan maaf, chat pun terhenti sampai disitu. Begitu juga dengan kedekatan mereka berdua, yang sejak saat itu ikut terhenti dan menjauh dengan sendirinya. Tapi satu hal yang gue yakin belum bisa berhenti sampai sekarang, rasa sakit dan kecewa Aris terhadap Tia!

Sekarang, nggak akan ada lagi suara Tia di malam hari dari hape Aris, suara seorang Tia yang bisa membuat Aris tersenyum dari malam menjelang tidur hingga dia terbangun dipagi hari. Nggak ada lagi seseorang yang Aris tunggu keluar dari kelas untuk sekedar ditatap wajahnya dengan manja. Dan nggak ada lagi alasan Aris meminjam motor gue untuk membawa gadis pujaannya pergi bercanda ria mengitari indahnya kota Jogja.

Besoknya, Aris mulai menunjukan prilaku yang wajar untuk dilakukan oleh orang yang sedang kecewa. Menyalahkan apa saja yang bisa disalahkan!

“Kenapa Tia nggak pernah bilang dari awal kalo dia udah punya pacar??!! Kenapa Tia mau-mau aja pas gue ngajak dia jalan padahal udah ada seseorang yang lebih pantas dia temani dari pada gue??!! Kenapa Niko baru muncul ketika hubungan gue dan Tia udah sejauh ini??!!” Suara Aris memecah keheningan di perpustakaan.

Sebenarnya, jika Tia emang memiliki rasa yang lebih terhadap Aris, dia bisa saja dengan mudah meninggalkan Niko dan memilih untuk pergi bersama Aris. Pria yang jauh lebih mencintai dan menyayanginya. Namun kenyataannya tidak seperti itu…

Gue jadi inget sebuah adegan film yang dibintangi oleh Andika Pratama dan Bunga Citra Lestari. Dalam film ini, Bunga berperan sebagai Stella, seorang cewek yang sudah mempunyai kekasih. Tapi tiba-tiba muncul Andika ditengah-tengah hubungan mereka. Ternyata, terdapat cinta di hati Stella terhadap Andika, cinta yang jauh lebih besar dari pada cinta Stella terhadap kekasihnya. Dan diakhir cerita,  didepan sebuah lift di apartemen milik pacar Stella, Andika berkata, “Kalo kamu milih aku, ayo naik ke lift ini dan kita turun sekarang! Tapi kalo nggak, silahkan tetap tinggal. Biar aku turun sendirian!”

Sayangnya, sama seperti yang dilakukan Stella dalam film tersebut. Tia hanya diam tidak melakukan apa-apa. Hingga akhirnya, Aris menutup pintu lift karena Tia tidak mau ikut bersamanya.

Ya, Tia membiarkan Aris pergi turun…. Sendirian!

Sekarang, Aris seperti kehilangan gairah untuk mendapatkan pasangan. “Biarlah gue hanya menuliskan nama keluarga dan nama kalian -temen-temen gue- di halaman persembahan skripsi gue ini” Kata Aris lesu ketika sedang berkumpul bersama kami di meja bundar laboratorium fakultas hukum sambil memperbaiki skripsinya.

Kami semua hanya tertawa dan menghina kegagalan Aris sejadi-jadinya!. Yak, begitulah cara kami memberikan hiburan sederhana kepada Aris. Agar dia sadar bahwa dia harus bangkit dari seorang Tia. Dia harus bisa melupakan Tia dan mencari seorang gadis lain yang mau diajak turun dari lift bersamanya! Bahkan mungkin, mau diajak turun meskipun hanya melewati tangga!

Buat Aris, yang sabar ya... nih, gue kasih sesuatu buat lo: #PUKPUKPUK!!! Hahahaha...


Sekian cerita dari gue, dan cerita ini bukan April Mop!! Thanks udah mampir, kalo ada komentar silahkan tulis di kolom komentar dibawah, yaa :))



Kecup manja,
Pemilik Sandalpedot (@Sandalpedottt


.


7 komentar:

  1. pedot gue juga mau punya gebetan

    BalasHapus
  2. Tes. Tadi komen gue mana? Padahal sudah susah payah nulis panjang lebar. Apa pakai moderasi?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nggak ada tuh mbah Rohyati, sya gak pakai moderasi -___-

      Hapus
  3. Shit, komen tadi ngilang! Oke gue ngulang. Trafik net suka mendatar. FB saja sering putus konek.
    Dari awal cerita, gue senyum-senyum bacanya, kadang juga ngakak. Tapi menjelang akhir malah dibawa pada sad ending.
    Jadi ingat masa dulu sebelom kawin dengan suami, gue juga pernah ngerasain jatuh cinta pada orang lain dan bertingkah konyol kayak Faris. Cukup bertemu sepintas atau melihat senyumnya atau disapa saja sudah melambung. Tenang, Bro, elo bukan satu-satunya insan konyol karena cinta bisa bikin hidup kita kehilangan logika sebagai pelakunya.
    satu-satunya hal yang bisa gue saranin sekarang adalah bangkit dari keterpurukan. Semoga suatu saat kelak bisa jumpa seseorang yang gak diam saja dan bisa nentuin pilihan bahwa ia haqqul yaqin pada Faris. :)
    Akan ada masanya. Yang penting optimis adn menata hati sekaligus menata langkah ke depan. Bikin strategi agar gak jatuh lagi.
    Adakalanya cinta bisa berasa pahit karena emang cinta itu ORANGE! Ada manis-asem-hambar-pahitnya. Bergantung bagian mana yang dimakan dan bagaimana kadar kesegarannya. :p
    Busyet, gue kayak emak-emak saja. PUKPUKPUK! :v

    BalasHapus
  4. padahal itu prestasi tertinggi Aris dalam karir hidupnya bisa deket sama cewek ya...
    peristiwa ini jadi semakin membuktikan teori bahwa cewek memang suka membingungkan, kasian Aris.. rasanya pasti nyesek banget, udah melambung tinggi tiba2 dijatuhin kenceng banget.

    Tia-nya juga sih pake PHP segala, lagian iya juga.. selama pedekate hampir enam bulan masa iya enggak tau statusnya Tia.. padahal Aris tau segala tentang Tia.. ini yang bikin cerita ini jadi penuh misteri.

    BalasHapus
  5. Wah ceritanya ini udah kayak film FTV aja mas....

    wah sialan tuh Tia... tega banget ama Aris.. udah punya pacar masi suka ngecengin cwo lain... beruntung si Aris ngga dapet tuh Tia... karena udah keliatan banget udah kayak cewe murahan.. apa lagi pdktnya lama banget..

    super nyesek jadinya pas tau si Tia udah pacar...

    BalasHapus
  6. kasian amat tuh temen lu kena PHP tingkat akuuuuttt...hehehehe. geli bangettt padahal pasti dia udah ngimpiin bakalan nuis nama Tia di halaman persembahan..tapi cinta emang kek gituuu, yg sabar ajah yaaaak...@.@

    jadi inget masa dulu gue juga gagal ngasih nama ehem di persembahan guee..padahal udah gue rencanain dari 5 tahun sebelumnya, huahahaahha

    BalasHapus