Menentukan Cita-Cita


Bulan September besok adalah Anniversary gue dengan kampus tercinta. Hubungan kami udah berlangsung selama kurang lebih 3 tahun lamanya. Ibarat sepasang kekasih, kami udah berhasil ngelewatin banyak hal bersama. Dari mulai berantem gara-gara SPP dinaikin terus tiap semester, masa-masa ngambek karena kampus nggak ngasih libur dihari kejepit, masa-masa bosen karena tiap hari ketemuan, dan dulu di tahun kedua, ada masa kelam dimana gue ke “GEP” lagi beduaan sama kampus lain. Dan dengan pengertiannya kampus gue nggak marah sama sekali bahkan nggak ngasih respon apa-apa. Karena dia cuma bangunan.

Tapi sayangnya, hubungan kami adalah hubungan yang bisa dibilang sulit untuk dijalani. Sebab, gue nggak bisa selamanya mempertahankan hubungan ini, karena mau nggak mau, hubungan indah ini harus berakhir dengan prosesi wisuda yang akan gue alami di tahun ke-4 nanti. Dan, yang jadi permasalahan adalah, “MAU NGAPAIN GUE SEHABIS WISUDA?” Apakah gue harus macarin kampus lain yang lebih sempurna dengan jenjang S2? atau gue pindah selera dengan macarin bangunan bernama kantor?


Meskipun masih sekitar setahun lagi, tapi pertanyaan semacam ini bikin gue galau dan eneg! Karena hampir tiap hari dan ditiap tempat, gue selalu ditanyai pertanyaan yang sama oleh orang-orang sekitar.

Misalnya hari Senin kemaren, pas lagi duduk di lobby, adik angkatan gue si Sidiq Panas Dalam, datang cengar-cengir ke arah gue sambil mamerin gigi cyborg-nya (Re: Behel).

“Gimana skripsinya, bang?”

“Ha?!” Gue menoleh kearah dia dengan muka kusut kayak mahasiswa yang belum pernah tidur sejak kerusuhan Mei 1998.

“Skripsi…gimana? Skripsi?”

“Oh…Gue masih semester enam, belum waktunya nyusun skripsi!” Jawab gue ketus sambil nguap-nguap karena masih pagi.

“Oh, udah semester enam?! Abis tamat ini mau ngapain, bang?”

Gue diam, ngelirik tajam kearah dia dengan ekspresi wajah seorang psikopat hyperseks yang belum ngerasain pantat selama seminggu! Detik itu juga karena bete, gue langsung pergi ke taman kampus tanpa ngejawab pertanyaan Sidiq. Dan kebetulan disana ada beberapa temen gue yang sedang ngumpul-ngumpul. Hati gue langsung berbunga-bunga karena menemukan teman seangkatan dalam jumlah lebih dari satu (Yang semester tua, pasti ngerti bahagianya kayak apa)

Dengan senyum, gue datang dan langsung gabung dengan mereka, “Pada bahas apaan, nih? Seru banget!” Ucap gue semangat.

“Kita lagi bahas tentang kuliah S2, nih! Sini…sini join!”

#DANG

Senyum gue langsung luntur! Pantat yang tinggal 2,5 centi lagi hinggap di kursi taman, mendadak kembali terangkat. Gue langsung pergi ninggalin mereka tanpa berkata apa-apa dan memutuskan pergi ke kantin yang letaknya di gedung Ekonomi.

Sesampainya di kantin itu, keadaan masih sepi karena belum jam makan siang. Cuma ada abang-abang penjaga kantin yang penampilannya mirip rombongan pencopet Tol Jogorawi. “Nggak mungkin banget dia nanyain tentang kelanjutan study gue”. Pikir gue dalem hati.

Gue langsung nyomot tiga potong roti dan setumpuk gorengan. Karena kalo lagi kesel, biasanya gue lampiaskan dengan makan sebanyak-banyaknya! Bahkan pernah dulu pas lagi berantem sama mantan, gue khilaf makan bakso ekstra pedas 3 mangkok sekaligus. Yang akhirnya sukses bikin usus gue nggak nyambung lagi sama anus!

“Anak Ekonomi, ya?” Tanya abang-abang penjaga kantin itu tiba-tiba duduk disebelah gue sambil nyalain rokok.

“Bukan, bang! Anak Hukum…”

“Oh, anak hukum…”

“Cih, sok ngerti banget!” Celetuk gue dalam hati.

“Mau konsen di hukum apa?” Ucapnya melanjutkan sambil menghembuskan asap putih yang nggak kalah tebel sama kabut Riau.

“Belum tau, nih, bang!”

“Hmmm…kalo boleh saran, sih, mending konsen di Hukum Dagang aja. Soalnya 2015 besok ini kan mau pasar bebas, pasti ahli Hukum Dagang banyak dibutuhin. Nanti itu, ya! Bakalan banyak WNA yang ke Indonesia buat nanam saham dan jadi investor. Lumayan tuh vee-nya. Apalagi kalo mereka sampai bangun coorporate disini, sekarang ngurusin pembangunan PT bisa ratusan juta loh!”

Gue cengok sambil mangap-mangap! Ternyata dia bukan abang-abang penjaga kantin biasa! Gue perhatiin wajahnya dengan seksama, gue curiga dia adalah Hotman Paris Hutapea dan sekarang kami sedang ada di acara Jika Aku Menjadi episode “penjaga kantin Ekonomi”.

“I-Iya, bang. Rencana juga mau ngambil hukum Dagang. He-he-he” Jawab gue agak canggung karena dia kayaknya lebih pinter daripada gue.

“Terus, abis wisuda nanti mau ngapain?”

“Saya mauuuu…” Belum selesai pertanyaan itu terjawab, gue baru menyadari sesuatu. “ANJRITTT??!! KENAPA PERTANYAAN INI LAGI??!!” Gue mengupat dalam hati.

“Saya mauuuu ke Jerman, bang. Dagang jaket kulit terus buka jasa perpanjang STNK” Jawab gue ngasal.

“Masa sih sarjana huk…”

“Nih, bang, duit gorengannya. Makasih bang” Ucap gue memotong omongannya, dan kemudian langsung pergi ninggalin dia sendiri.

Malemnya, tiba-tiba gue kepikiran tentang pertanyaan tadi siang. Gue mulai menyadari kalo mereka nggak salah. Mungkin ini emang udah saatnya gue menanyai diri gue sendiri, “Mau ngapain gue setelah wisuda nanti?!”

Akhirnya, semalaman itu gue nggak bisa tidur. Bukan karena mikirin masalah itu, tapi karena kamar gue banyak nyamuk.

Dengan kondisi insomnia itu, gue memaksa otak gue buat mencari jawaban dari pertanyaan tadi. Dan akhirnya, setelah jam dua malam, setelah otak gue berulang kali harus dicolok PowerBank karena ngedrop, gue akhirnya tau apa yang harus gue lakuin sehabis wisuda nanti. Ini dia “kira-kira” jawabannya:

Kerja Sesuai Passion
Selama 12 tahun gue sekolah, jarang ada prestasi yang bisa gue banggain dari bidang akademik. Gue nggak pernah jadi juara kelas, dan gue nggak pernah dapet beasiswa dari siapapun. Baik itu dari Pemerintah, Dikti, atau FPI. Dulu pas kelas satu SMP, gue pernah menang kompetisi Cedas Cermat antar kelas. Itu pun gue bisa menang karena pas lagi lomba, lawan gue mendadak demam panas.

Setelah kuliah, gue nyoba untuk berubah. Gue belajar lebih giat daripada pas zaman sekolah. Alasannya cuma satu, kuliah itu bayar! beda sama sekolah. Jadi gue nggak mau rugi dengan nyia-nyian duit yang udah dikeluarin bokap dan nyokap. Dan hasilnya, bukannya sombong, IP gue nggak pernah kurang dari 3,8. 

Tapi sayangnya, itu cuma IP kosong! Gue baru sadar kalo selama enam semester ini gue belajar cuma buat ngejer nilai, bukan ilmu. Alhasil, meskipun nilai gue bagus, tapi gue nggak tau apa-apa. Empat bulan yang lalu misalnya, gue ditanya tentang materi pelajaran semester 1 sama salah seorang dedek Maba. Ending-nya, gue cuma bisa diem, nelen ludah, terus mencoba mengalihkan perhatian dengan bilang, "Udaranya seger, ya?!” Padahal waktu itu sedang ada hujan abu.

Beda dengan temen gue si Momon. Dia kuliah buat nyari ilmu. Meskipun IP-nya masih dibawah gue, tapi dia lebih paham soal hukum daripada gue. Hari-harinya dia habisin buat baca buku pelajaran sampai lupa waktu. Tiap ada diskusi, dia pasti ikutan nimbrung. Tontonanya pun nggak jauh dari Indonesia Lawyers Club atau Mata Najwa. Atau hal apapun yang ada hubungannya dengan hukum, pasti dia suka. Nah, apa yang dilakuin Momon inilah yang namanya Passion.

Passion adalah melakukan sesuatu yang benar-benar disukai, bukan karena paksaan, tapi karena kerelaan.   

Karena hal itulah gue ngerasa kalo inilah saatnya gue keluar dari “kemunafikan” gue selama ini. Gue mau menjalani profesi yang bener-bener gue sukai. Udah cukup selama ini gue hidup dengan ngikutin pandangan masyarakat kalo sukses itu cuma ditentuin sama nilai rapor, IPK tinggi, atau bisa kuliah keluar negeri!

Sikat Apa Yang Lewat!
Meskipun mau fokus ke passion, tapi bukan berarti gue harus sombong dan nolak kalo ada tawaran kerjaan yang datang sehabis gue wisuda nanti. Gue menganggap bahwa pekerjaan sesepele apapun bakalan lebih baik dari pada sehabis wisuda gue cuma duduk dirumah sambil mainin titit pakai solder karena nganggur. Bokap gue pernah bilang:

“Meskipun kau kuliah Hukum, tapi ayah nggak mengharuskan kau kerja dibidang hukum. Karena, banyak kerjaan yang masih bisa  bikin kau hidup selain hukum. Jangan mikir sempit!”

Apapun kerjaan yang ada, sikat! Jangan pernah malu atau gengsi meskipun gajinya cuma cukup buat beli Pajero. Karena pekerjaan ini sifatnya cuma sementara, sebelum kerjaan yang berhubungan dengan passion tadi tercapai! Sebab haram hukummnya orang yang baru aja tamat S1, udah sok pilah-pilih kerjaan. But, seandainya sehabis wisuda bisa langsung dapet pekerjaan yang berhubungan dengan passion, why not?

Tunda Kesenangan
Sehabis wisuda, gue mau merubah kebiasaan buruk gue. Gue mau berhenti nraktir cewek-cewek jajan sate kerang. Gue mau berhenti begadang nonton Mister Tukul Jalan-Jalan, dan gue mau berhenti nyoret pintu ruko orang pakai pilox.

Semua kesenangan yang sia-sia itu harus ditunda atau dikurangi setelah gue wisuda nanti. Apalagi kebiasaan males-malesan dan kebiasaan yang rentan menghambur-hamburkan uang. Karena mungkin udah umurnya buat gue menghidupi diri sendiri setelah hampir 20 tahun dihidupin sama orang tua. Prinsipnya, gue lebih rela menunda kesenangan sekarang dan ngelanjutin bahagia dihari tua dari pada harus bermanja-mana sekarang dan nggak punya apa-apa di usia senja!

Kerja Bareng Orang Tua?
Gue punya seorang temen, namanya Udin Hepatitis B. Doi adalah anak orang kaya di kampung gue. Bokapnya adalah kepala Dinas Pekerjaan Umum dan ibunya adalah juragan bubur sum-sum. Tapi sayang, karena udah dikekang sejak masih jadi zigot, Udin yang sebenernya pengen banget jadi pelukis, sekarang terpaksa harus mendekam di fakultas Teknik Sipil. Dengan harapan, setamatnya dia dari bangku kuliah nanti, Udin bakalan di jadiin PNS dan di pekerjakan di kantor yang dipimpin sama bokapnya itu. Nyambi jual bubur sum-sum ibunya disana.

Nah, gue sangat menghindari pekerjaan yang berkaitan dengan kerjaan orang tua kayak yang dialami Udin itu. Selain karena itu adalah perbuatan nepotisme dan takut di grebek KPK, kerja bareng/sekantor dengan orang tua itu nggak ada yang nyaman. Kita bakalan takut salah dan takut berekspresi dengan alasan “Jangan sampai bikin malu orang tua!” Alhasil, hari-hari gue nantinya bakalan penuh dengan tekanan dan cuma ngikutin instruksi dari orang tua. Nggak bisa bereksperimen, nggak bisa berkarya, nggak bisa ngajak tante-tante di kantor main air di WaterBoom.

Jual Toga + Gadai Ijazah
Ini adalah hal terakhir yang akan gue lakukan kalo udah mentok dan nggak tau lagi abis wisuda mau ngapain. Gue bakalan menghias dan merombak toga yang gue pakai pas wisuda menjadi sebuah gamis. Dan akan gue jual toga itu ke mama Dedeh dengan harga ratusan juta.

Selain toga, gue juga bakalan menggadaikan Ijazah gue ke pengepul Ijazah. Terus duitnya bakalan gue jadiin modal buat jualan Kebab Turki Baba Rafi di depan Indomaret.

Itulah hal-hal yang akan gue lakuin setamatnya gue besok. Emang, sih,masih sekitar setahun lagi. Tapi seenggaknya, kalo Sidiq panas dalam atau abang penjaga kanti Ekonomi nanyaian lagi, “Abis wisuda mau ngapain?” Gue bakalan ngejawab pertanyaan itu dengan lantang. “Gue mau jadi penulis novel, pengusaha laundry, juragan kontrakan, pemilik cafĂ©, dan bikin penerbitan buku sendiri. Sesuai dengan passion gue!”


Diakhir postingan, sekarang giliran gue yang ngasih pertanyaan, “Mau ngapain kalian dimasa depan?” Curhatkan di kolom komentar ya :D

Thanks For Reading!
Follow ya Twitter baru gue (@Ariesuryawinata


 Kecup Manja,
 Pemilik Sandal Pedot,

13 komentar:

  1. Iya, akhir-akhir ini juga sering kepikiran ini. Biarpun masih (ngerasa) muda di kampus sih baru hampir setahun hehehe. Dulu sering netapin target-target setiap tahun, kaya semacam memperbarui resolusi gitu. Bikin semangat jadi lebih terpacu lagi. Tapi kok yaaa kenapa ya akhir-akhir ini sering takut kalo mau netapin target lagi. Karena takut gagal, takut ngga sesuai sama harapan, takut ini takut itu hehehe. Tapi mau let it flow aja juga kok kaya orang yang ngga punya tujuan gituuuu aaaaak mungkin harus kembali netapin target-target lagi kaya dulu, tapi lebih sempit dan... apa ya lebih dirasionalkan kali ya hehehe. Jadi kepanjangan gini deh :3

    BalasHapus
  2. yang terakhir sumpah ngakak-_-
    sampe segitunya ya bang kalau lo gak tau mau apalagi yang harus lo lakuin selesai kuliah. sampe jual toga + gadai ijazah. gak gitu juga bisa kali baang -__-

    BalasHapus
  3. kerennnn, lu udah mukirin buat kelanjutan hidup lu kedepan bro walaupun masih tahun depan lulusnye.

    Btw, opsi terakhir yang lu mau rombak toga lu jadi gamis, untuk kemudian lu jual ke Mamah Dedeh.. jangan dilakuin dehh.
    soalnya gw takut ntar Mamah Dedeh sehabis ceramah lemparin jilbab ke udara lagi..

    do'a gw, semoga lu bisa dapet apa yang sesuai dengan passion lu bro :)

    BalasHapus
  4. Oke aku jawab, mau jadi apa setelah wisuda"
    karena aku udah lulus 2tahun yg lalu, aku ingin banget jadi seorang guru dan alhamdulillah skg beneran jadi guru nan unyu hahhaaa
    btw aku juga kira itu abang2 kantin adalah Hotman Paris Hutapea deh, soalnya ngomongnya "hukum" banget wkwkwkw
    kamu yg sabar yaaa kalau ditanya habis lulus ngapain, emang menyakitkan tp itu realitas yg harus dijalani.
    oya kerja menurut passion itu bagus, apalagi bisa nyambi kerja lain yg menggiurkan hehe
    aku juga ga suka KKN kayak anak penjual bubur sum2 itu, kasian endingnya

    BalasHapus
  5. entah kenapa sekarang temen2 ku pada menggembor-nggemborkan untuk memperbanyak pengalaman kerja mereka, apalagi abis ini mau liburan panjang. bukannya pada sibuk ngerjain tugas uas, tapi mereka malah sibuk ngirim lamaran pekerjaan sana sini. mungkin mereka pengen kalo abis wisuda nanti, mereka bisa langsung dapet pekerjaan yang dapet fee lumayan dengan menunjukkan semua pengalaman kerja mereka.
    dari pertama kuliah, aku berprinsip kalo kuliah itu bukan untuk nilai. IPK ku memang pas2 an, tapi untungnya masih 3 koma, tapi aku pengen menikmati semua proses yang ada dan menyerap ilmu yang udah aku dapet dari semester awal sampe akhir nanti..
    meskipun aku masih 2 tahun lagi untuk bisa wisuda (insya Allah, semoga saja), aku juga sudah berpikiran tentang ini.. tujuanku masih sama, aku pengen jadi guru.. sekarang masih berusaha untuk menjadi guru yang lebih baik.
    semoga apa yang kakak pengen bisa sesuai dengan passion nya yaa :)

    BalasHapus
  6. wah bang dimari banyak yang nyari gamis tuh mending jual ke ane aja toganya
    aku sih gatinggi tinggi bgt sekolahnya jadi gatau deh bakal apa kalo udah gini :3

    BalasHapus
  7. gambar terakhir menjijikkan buat laki-laki...semoga kaum lelaki disini tidak menjadi korban

    nah, itulah bang...saya pun sama,,kadang niatan buat cari ilmu itu berubah jadi yang enggak-enggak...biar dapet ijasahlah..cari kerja lah,,,dll...
    padahal yang harusnya dituju ya ilmu...pengetahuan...betapa banyak waktu yang terbuang untuk nyari nilai....tapi ilmu berserakan...Astagfirullah

    BalasHapus
  8. itu namanya beneran Sidik Panas Dalam bang ? sumpah, gaul abisss.

    iyatuh bener, mentang2 udah S1 nggak mau nerima kerja asal-asalan, kan asal udah sesuai ama passion dan hasilnya lumayan kan nggak papa -_-

    BalasHapus
  9. Hai bang, jujur gue belum kuliah, sekilas cerita gokil elo bikin gue bergidik menghadapi perkuliahan di masa depan. Emang sih banyak yang bilang semester akhir itu susah banget, apalagi berhubungan dengan skripsi dan tugas yang membludak.Tapi nyatanya banyak banget orang yang pada dasarnya nggak mau kuliah tapi tetep ngebet kuliah. Gimana tuh bang.
    Padahal bayang-bayang skripsi selalu menghantui para mahasiswa menjelang akhir semester,

    Cita-cita gue simple bang, bisa ngajar calon murid gue nantinya, biar mereka bisa enjoy dengan pelajaran yang gue ajar. Dan bisa jadi guru idola untuk mereka.. Hahaha, satu lagi bang, bisa jadi penulis berjaya! udah itu aja, doain ya bang...

    BalasHapus
  10. Wah, keren dah pemikiran lu Ndal..lama nggak ketemu ternyata lu udah tumbuh dengan begitu cepat *sokkenal hahahaha...

    tapi emang bnr sih, gue sebagai orang yang udah menemukan passion di dunia mengajar juga dulunya seperti kehilangan arah dan tak tau arah jalan pulang semacam butiran debu waktu ditanya mau jadi apa selulusnya kuliah, dan alhmdulillah dikit dikit gue tahu apa yang gue suka. Benar juga kata lu kalo langsung bekerja lebih baik walo kerjanya mungkin tidak sepenuhnya kita senang daripada bersikap idealis dan malahan nggak cepet dapet kerjaan...Gue doain semoga lu bisa lulus dengan hasil terbaik dan dengan temmpo sesingkat singkatnya yaaa...

    BalasHapus
  11. bener banget sih bo, wkwkwk
    aku samaan ini kek kamu.
    habis wisuda mau ngapaiin? XD XD
    ini di rumah jg paling tidur makan tidur makan.
    temen-temen aku yang IP pas2an justru malah lbih ngerti ketimbang aku, wawasan mereka luaaas banget nget.
    dan aku sukak jawabanmu yang terakhir, 'penulis novel' wkwkwk XD
    itu yg aku pngen wujudin dr dluu

    BalasHapus
  12. Wih.. iya nih, akhir-akhir ini gue juga bingung, mau kuliah di mana setelah SMA, sama masih bingung mau ngisi apa, masa-masa SMA ini. Oh iya ini Kunjungan perdana loh Mas!!! :D

    BalasHapus
  13. ngahaha, punchline nya gilak.

    pemikiran yg dewasa.

    BalasHapus