Minggu, 31 Agustus 2014

Rumah Kontrakan



“Tok…tok…tok” Seseorang mengetuk pintu kamar kost gue.

Gue yang waktu itu baru saja keluar dari kamar mandi, segera berlari ke pintu dan membukanya. Disana ada seseorang lelaki berwajah dangdut dengan mengenakan sweater abu-abu sedang tersenyum.

“Ad apa ya, pak?” Tanya gue sopan.

“Sehat, mas?”

“Se-sehat…sehat.”

“Lagi ngapain?”

“Hmm…Baru abis keramas aja pak.”

“Oh..iya. Itu rambutnya basah dan berkilau”

“Ah bapak…cuma pakai shampo kok”



Bapak itu kemudian melihat sekeliling dan berkata dengan canggung. “Jadi begini, mas…” Dia diam sejenak sambil menggaruk-garuk kepala, “…tahun ini harga kost-nya mau saya naikin, nih. Hehehe” Lanjutnya memberanikan diri.

“Naik? Berapa pak?”

“Naik jadi Tuuuuuut mas, soalnya anak saya satu-satunya mau kuliah, jadi butuh biaya. Gimana, mas? Boleh saya naikan harga kostnya?”

“Oh gitu…” Gue berkata dalam hati “Kenapa bapak ini minta izin ke gue?!”

“Iya, sekiranya dengan harga segitu mas masih mau tetep disini atau pindah, ya bebas”

“Saya pikir-pikir dulu ya pak? Secepatnya nanti saya kabari. Mau lewat SMS atau BBM? Atau bapak punya Path?” Kata gue sopan.

“Oh, iya. Ndak apa-apa, mas. Silahkan, Monggo dipikirkan dulu. Terserah masnya aja mau kasih kabar lewat mana. Tapi ini ID LINE saya silahkan di catat”

“Oke, pak” Gue dan bapak itu saling invite di Line.

Dengan gerak-gerik seperti layaknya orang ingin berpamitan, bapak itu melihat pergelangan tangan kirinya. “Wah, udah jam segini. Saya pamit dulu ya mas.”

“Iya” Jawab gue singkat. “Lain kali jam nya di pakai ya pak, supaya basa-basinya natural”

“Iya mas, tadi kelupaan.pakai jam”

Langkah cepat dia ayunkan menuju pagar kost. Disana ada sebuah motor Lagenda berwarna hitam yang sepertinya belum pernah dicuci sejak Indonesia merdeka. Tanpa berpamitan, bapak itu segera memacu motor Lagendanya dengan gas full  menggunakan gigi empat. 50 meter kemudian karburatornya meledak.

Gue masih terdiam di depan pagar kost sambil merenung. “Apakah ini waktunya gue pindah?”

Harus gue akui, belakangan terakhir kost gue memang terasa kurang nyaman. Airnya sering mati yang menyebabkan gue harus mengalih fungsikan air dispenser untuk cebok. Selain itu, ruangan 6x3 meter ini hanya di lengkapi oleh sebuah jendela berukuran 1x1 meter. Membuat udara pengap dan kesehatan sistem respirasi gue jadi terganggu. Belum lagi letak kamar gue yang persis bersebelahan dengan jalan. Kalau malam anak-anak kampung sini sering lewat rame-rame sambil menyanyikan lagu soundtrack Mahabarata.

“Mungkin sudah saatnya gue pindah!”


Dengan menggandeng seorang teman bernama Rio, yang juga sudah merasa bosan dengan kostnya sekarang, kami memutuskan untuk mencari sebuah rumah kontrakan. Logikanya, kontrakan akan lebih besar dan lebih banyak ruangan daripada kamar kost. Terutama dapur. Dengan adanya dapur, gue dan Rio berencana untuk memasak sehingga tidak perlu membeli makanan yang tentunya akan menghemat biaya pengeluaran kami.

“Kita bisa hemat kalo punya dapur. Sekali masak bisa untuk makan dua hari!”

“Iya. Kita jadi nggak harus beii makan di luar lagi. Selain lebih hemat, makanan kita juga lebih higienis”

“Hahahaha….bener banget!” Gue dan Rio tertawa lebar.





“Lo bisa masak?”

“Enggak. elo?

“Sama….”

…….hening.



Pertama-tama, kami menentukan dulu kriteria rumah kontrakan yang akan kami tempati. Rio bilang bahwa kontrakan tersebut harus terletak di daerah kota, karena dia akan sering pulang malam dan takut jika harus melewati daerah desa yang sunyi. 

Gue mengiyakan.

Selanjutnya gue mengharuskan kontrakan tersebut adalah bangunan baru, bukan rumah tua peninggalan Belanda atau rumah bekas persembunyian teroris Jawa.

Rio sepakat.

“Kita cari rumah yang harga berapa?”

“Mmm…10 juta? kita bagi dua, lo 5 juta, gue 5 juta?”

“Oke deal!”

“Gue nggak sabar pengen tinggal di rumah kontrakan! Pasti nanti rumahnya bagus.”




Kontrakan 10 juta dalam bayangan gue.




Kontrakan 10 juta dalam bayangan Rio


“Oke sip, ayo besok kita cari!” Rio bersemangat.


Rumah pertama yang kami datangi adalah sebuah rumah yang terletak di belakang kampus. Info tentang rumah ini kami dapatkan dari selebaran yang di tempel di tempat pencucian karpet.

“Ini rumahnya?”

“Iya” Kata Rio sambil membaca alamat yang ada di selebaran tersebut. “Tuh, sama kan dengan foto yang ada diselebaran” Rio menyodorkan selebaran tersebut ke gue.

“Iya bener, tapi kok…” Kalimat gue terhenti.

Di selebaran tertulis bahwa rumah ini terletak di sebuah kawasan perumahan. Namun nyatanya, di sekeliling rumah ini yang ada hanyalah hutan bambu tempat orang biasa gantung diri atau tempat psikopat membuang mayat.

Rumah tersebut berbentuk minimalis dan baru saja dibangun. Tampak dari halaman rumah yang masih berserakan kaleng cat, batu bata, dan beberapa papan bekas.

“Rumahnya bagus, sih. Tapi lo yakin mau tinggal disini?”

Rio melihat rumah itu, menoleh kearah hutan bambu, dan melihat lagi ke rumah tersebut. “Nggak deh! Serem banget! Yuk kita cabut aja!”

Dan hari itu kami pulang tanpa hasil.


Rumah kedua adalah sebuah rumah yang infonya kami dapat dari seorang teman. Rumah tersebut sangat besar, bahkan terlalu besar untuk di tinggali berdua. Pemiliknya bilang bahwa rumah ini dulunya dipakai untuk kantor oleh penghuni sebelumnya. Namun dia tidak bilang kantor apa. Saat kami masuk, benar saja, banyak meja-meja yang tidak terpakai dan beberapa dokumen yang masih menumpuk di ruang belakang. Selain itu, yang mencolok dari rumah ini adalah ruang tengahnya yang sangat luas. Gue rasa cukup untuk turnamen futsal atau arena balap Gokart.

“Ehm…setahunnya berapa ya pak?” Tanya gue mencoba membuka penawaran.

“Nggak mahal kok mas, cuma tuuuuut juta setahunnya!” Pak Yuli yang merupakan pemilik rumah tersebut menyebutkan harga yang lumayan fantastis. Uang 10 juta yang kami miliki mungkin hanya mampu untuk membayar sewa tempat jemurannya. Maka dengan alasan “pikir-pikir dulu”, kami segera pergi dari sana.


Meskipun gagal, namun kami tidak menyerah. Minggu selanjutnya kami kembali melihat sebuah rumah di kawasan Patang Puluan Yogyakarta.

“Itu rumahnya?” Kata gue menunjuk sebuah rumah berwarna abu-abu yang bergaya minimalis dan bagus.

“Iya, kata temen gue disini rumahnya. Tuh ada lapangan badmintonnya kan?” Rio menunjuk lapangan badminton di depan rumah tersebut. Sebelum mulai bertanya, kami memastikan dahulu lingkungan rumah tersebut. Tidak ada hutan bambu, tidak ada mayat yang di buang, dan tidak ada tanda-tanda bekas kantor. Selain itu, terdapat tulisan besar dengan huruf kapital “DI KONTRAKAN” di pagar rumah tersebut.

Ting..nong…ting…nong..

Gue memencet bel dengan yakin dan optimis.

“Iyha? Adha apha ya mas?” Seorang lelaki berlogat Jawa, kurus, berambut kusut, dan berkaca mata keluar dari rumah tersebut menyambut kami hanya dengan celana boxer kuning bergambar Tweety dan kaos oblong putih yang bagian ketiaknya sudah menguning.

“Kelihatannya dia penyuka warna kuning.” Rio berbisik ke gue.

“Mas yang punya rumah?” Tanya gue kepada mas tersebut.

“Bhukan, yang punya rumah ini tinggalnya dhi bhelakang” Dia berkata sambil tersenyum. Dan ternyata…giginya juga kuning!

“Tuh, bener kan?!” Kata Rio bersemangat.

“Bisa antar---“

“Oh bisa…bisa!” Dia memotong omongan gue. “Ayo ikut saya!” Ajaknya sambil berjalan mengitari rumah.


“Pak Bismo…paaaak??”

“Ckreeek”  Suara pintu di buka.

“Ono opo to?” Seorang bapak-bapak berambut putih keluar dari rumah dengan rokok kretek terjepit di sela jarinya..

“Iki lo pak, ono sing want to meet you!”
(Sorry gue nggak terlalu paham bahasa Jawa.)


“Ada apa mas?”

“Mau tanya rumah yang di depan, pak. Itu kamarnya ada berapa ya?” Tanya gue.

“Oh..kamarnya ada---“

“Ada dhua mas!” Mas-mas bergigi kuning metalik itu memotong kalimat pak Bismo dengan tersenyum.

“Harga pertahunnya berapa ya pak?” Rio bertanya.

“Harganya---“

“Sephuluh jutha mas. Udah sama lestrek, aer, dhan laen-laen!”

“Mas, bisa diem nggak?!” Gue emosi dan berkata dengan nada membentak.

“Bisa kami mengontrak disana pak?” Tanya Rio to the point.

“Oh nggak bisa mas. Rumah itu sudah ada yang mengisi!”

“Lah, siapa pak?”

“Sayha mas..hehehe”

#KAMPRET


Mencari kontrakan itu ternyata sama seperti mencari pasangan. Dalam kasus pertama, rumahnya bagus, namun lingkungannya tidak mendukung. Seperti wanita yang sudah suka sama suka, namun tidak direstui oleh keluarga besarnya. Dalam kasus kedua, rumahnya bagus dan mewah, namun harganya terlalu tinggi. Ibarat wanita karir yang di taksir oleh seorang penggembala badak. Kasus ketiga pun sama, rumah bagus, harga pas, namun sudah milik orang lain.

Malam itu gue kembali ke kost dengan lesu. Beberapa kegagalan ini membuat gue sedikit bingung karena sewa kost-kostan akan habis seminggu lagi. Keyakinan beberapa minggu lalu untuk pindah, membuat gue sudah menelantarkan kamar ini. Sampah dimana-mana, cucian kotor menumpuk, dan ada seorang gelandangan yang tertidur di kamar mandi.

Dengan segenap tenaga yang tersisa, malam itu gue membereskan semuanya. Baru sekitar jam satu malam, semua kembali rapih seperti semula. Gue mencuci muka, sikat gigi, dan beranjak tidur. Dengan selimut, gue mencoba menghangatkan diri dari dinginnya udara malam itu. Anak-anak kampung mulai lewat lagi sambil mengobrol. Gue mengintip dari jendela. Bukan, mereka bukan sedang bermain. Tiap malam mereka lewat untuk berpatroli menjaga keamanan kampung. Selama ini gue salah sangka.

Keesokan harinya gue terbangun. Karena hari itu Minggu, kegiatan mandi pagi gue tunda beberapa jam dari waktu seharusnya. Pak kost datang dengan motor Lagenda miliknya yang karburatornya sudah diganti baru.

“Ngapain pagi-pagi buta dia sudah kesini?”

Dia beranjak ke pojok kost dan menyalakan air karena air di tangki sudah kosong. Dari sekitar 20 anak kost yang tinggal disini, tidak ada satupun yang peduli dengan hal itu. Itulah penyebab sering matinya air beberapa waktu lalu. Karena pak kost sedang sakit dan dia tidak sanggup untuk datang kesini.

Gue pun sempat bertanya mengenai betapa “imut”-nya jendela kamar kost gue. Dengan yakin pak kost menjawab, bahwa jendela itu sengaja dia buat minimalis dan letaknya tinggi. Karena dari kebanyakan kasus, banyak pencuri yang masuk dengan cara mencongkel jendela kamar. Sehingga kalau kecil, maling jadi tidak muat untuk memasukan tubuhnya kesana. Apalagi kamar gue bersebelahan langsung dengan jalan, tanpa pagar atau pengamanan.

“Itu jendelanya sengaja saya hadapkan ke Timur, karena meskipun kecil, tapi Matahari dan udara pagi bisa masuk ke kamar. Kerasa to?”

Gue mengangguk.

Seperti yang gue katakan tadi, mencari tempat tinggal itu sama seperti mencari pasangan. Karena mau tidak mau, suka tidak suka, kita harus mempunyai pasangan karena bersamanyalah kita akan tinggal dan menjalani hidup. Terkadang dengan alasan bosan, kita sering menyalahkan keadaan dan mulai mencari “rumah” lain yang kita anggap lebih sempurna. Sekarang kost gue sudah gue bersihkan, barang tidak berguna gue buang, semua debu yang selama ini dibiarkan menempel gue lap hingga kinclong. Dan gue memutuskan untuk memperpanjang masa sewanya.

…. Ternyata yang diperlukan hanya merawat apa yang sudah ada, agar selalu terlihat baru :)



Thanks for readings epirbadi :*

Jangan lupa follow Twitter baru gue @SANDALPEDOT











Muuuuuuuuaaaaaccccchhhhhhh...aku sayang kalian ({})









3 komentar:

  1. ahahaha ampe geli sendiri bacanya ane, pinter banget ente meramu tulisan, ngomong2 bikin ane jadi teringat masa2 kuliah dan tinggal di kost2an, suka duka anak kost memang tiada duanyaaa :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yap..thanks mas bro :D
      Betul banget, jadi anak kost itu emang penuh perjuangan dan kenangan. Masa-masa hidup cuma di sepetak ruangan, paling gak bisa di lupain :DD

      Hapus