Bukan KKN Biasa




Bulan Desember kemaren, gue harus ikut yang namanya KKN. KKN adalah singkatan dari Kuliah Kerja Nyata, semacam mata kuliah yang mewajibkan kita hidup di desa antah-berantah dan ngelakuin sesuatu buat masyarakat disana.


Kenapa antah-berantah? Kayak gue kemaren misalnya, gue ditempatkan disalah satu desa tempat Ninja Hatori menuntut ilmu kebal. Karena kalo mau kesana, lo harus mendaki gunung, lewati lembah, dan melawan Dajjal.

Nama desa tersebut adalah desa Kumayan Dlingo. Selama hidup gue di Jogja, gue bahkan baru tau kalo desa itu ada.

Seminggu sebelum berangkat, gue sempat bertanya dimana lokasi desa Dlingo ke beberapa orang temen yang merupakan manusia pengembangbiakan Jogja asli, supaya nantinya gue nggak perlu nyasar dan malah ngerepotin tim Basarnas.

Jawaban yang gue dapat adalah :

Dari temen biasa:

“Dlingo itu di daerah Imogiri Bantul. Dari Giwangan lo ke Selatan, lurus aja ntar ketemu Taman Buah Mangunan, naik terus ke Selatan, ntar ketemu pertigaan, lo ke Timur.”

Dari temen yang anak Mapala:

"Dlingo itu letaknya di 110.28.2 BT; 07.56.6 LS."

Gue yang masih sering salah nentuin arah kiblat, cuma bisa bengong mendengar penjelasan mereka. 

Saat hari pelepasan, gue sedikit lega karena gue beserta teman-teman KKN lainnya bakalan pergi ke Dlingo bareng-bareng. Kami sengaja konvoi karena memang sebagian besar belum tau letak desa tersebut.

Kelompok gue berjumlah 15 orang yang berbeda-beda jurusan. Ada yang dari Hukum, Hubungan Internasional, Teknik Mesin, dan Teknik Sipil. Setelah gue hitung dengan seksama, 5 orang diantara kami bertubuh gemuk. Badan mereka dipenuhi karbohidrat dan Omega 3. Syukurlah, gue berucap dalam hati. Seenggaknya kalo nyasar selama berminggu-minggu di hutan, ada yang bisa kami makan.

Perjalanan pun dimulai. Sesuai perkiraan, perjalanan ke desa ini lumayan jauh. Kiri kanan hutan dan jurang, jalannya belok-belok kayak seluncuran Waterboom, dan yang paling menantang, Dlingo letaknya di daerah perbukitan. jadi jalannya nanjak banget.

Sekitar satu jam perjalanan, tanggal 29 November 2014 jam 10.30 wib, adalah hari pertama gue dan teman-teman KKN menginjakan kaki di desa ini. Kami akan tinggal disini selama satu bulan. Meskipun rutenya sulit, tapi kami nggak nyasar sedikitpun saat di perjalanan, 5 orang gemuk itu pun tidak jadi dikonsumsi.

Kedatangan kami di sambut hangat oleh pak Ngatijo, Kepala Dukuh di pedukuhan Pakis II desa Dlingo. Rumahnya cukup besar dan luas, ada semacam aula di tengahnya yang biasa dipakai untuk rapat atau kegiatan masyarakat.





Selain bentuk rumahnya yang menurut gue Jawa banget, ada bagian rumah yang paling unik dan jadi tempat favorite gue dikala gue ingin berlindung dari kejamnya dunia.



Yap, Toilet!

Dari luar, toilet dirumah pak Ngatijo ini keliatan biasa aja. Sebelah kanan adalah tempat mandi dan sebelah kirinya tempat eek. Jadi disini, lo nggak bisa mandi sambil eek karena tempatnya dipisah. 

Tapi…tapi…meskipun tempatnya dipisah, ada yang spesial dari toilet pak Ngatijo ini.

Tembok pembatasnya nanggung.



Yuhuuu… diantara kamar mandi dan tempat eeknya dibatasi oleh tembok yang tingginya nanggung. Nggak menutupi secara keseluruhan.  Jadi semisal lo lagi mandi dan ada temen lo yang lagi eek, kalian bisa liat-liatan, curhat-curhatan, atau ngobrol tentang rencana masa depan.

Canggih!

Gue mencoba menganalisis motivasi pak Ngatijo bikin toilet kayak gini. Dan ternyata, gue menemukan kalo pak Ngatijo adalah orang yang mempunyai sisi romantisme. Gue baru sadar kalo toilet ini sengaja dibuat khusus untuk pak Ngatijo dan isterinya. Supaya mereka bisa terus bertemu dan saling memandang dalam situasi apapun. Gue tau pak Ngatijo sangat perhatian dengan isterinya, sekat nanggung ini di buat dengan tujuan, meskipun mereka berbeda ruangan, tapi pak Ngatijo ingin memastikan kalau istrinya baik-baik saja diruangan sebelah. Apa ada yang lebih soswit dari ini?

Gue ingat kesan pertama waktu gue nyobain toilet unik ini. Pas lagi asik mandi, tiba-tiba temen gue masuk ke sebalah tanpa permisi. Dengan beringas dia buka celana, jongkok, dan berak dengan membabi buta. Karena kondisi sekatnya yang nanggung itu, ada aroma yang masuk ke hidung gue dengan cara yang tidak menyenangkan. Sore itu gue nyaris meninggal dunia!

Selain pak Ngatijo dan Istrinya, ada satu lagi mahkluk hidup yang tinggal di rumah ini.



Sapi blasteran Jawa Tengah - Selat Malaka ini bernama Bonie. Tiap pagi, Bonie selalu membangunkan kami dengan suaranya yang mengaum. Agak aneh memang ada sapi yang bisa mengaum, tapi itulah Bonie. Dia punya talenta dan lahir dengan bakat yang tidak biasa. Seandainya dia manusia, pasti dia udah jadi pemeran utama di film  “Ayah, mengapa aku berberbeda?" tapi karena Bonie adalah sapi Jawa, judulnya jadi "Pak, kok aku bedo?"

Kandang Bonie persis berada disebelah kamar kami. Dia juga turut menyumbangkan bau yang spektakuler kalo lagi eek. Hari pertama kami menginap di sini, jam 4 pagi Bonie mengaum-ngaum nggak jelas. Menurut penuturan pak Ngatijo, Bonie mengaum kalau dia laper. Dengan kesal, salah seorang temen gue bangun, membawa beberapa helai rumput, dan melemparkannya ke Boni.

“Bon, makan nih! Lo rese’ kalo lagi laper!”

Seketika Bonie langsung diam. 

Hari-hari kami di Dlingo sangat menyenangkan. 40% ketawa-ketiwi, 30% tidur, 20% makan, dan 10% kerja. Itulah kenapa gue sebut ini menyenangkan. Kami juga sempat ngadain beberapa perlombaan untuk pelajar di desa ini. Salah satunya lomba baca puisi tingkat SD.



Tapi karena menurut gue baca puisi udah terlalu mainstream, lombanya gue ganti jadi…… lomba baca pikiran!



Meskipun ini adalah kuliah, namun semua kegiatan kami jalani dengan santai. Setiap ada kegiatan di Balai Desa atau di rumah tokoh masyarakat, kami pasti nyempet-nyempetin buat foto-foto. FYI, diantara teman-teman KKN yang lain, gue adalah cowok yang paling eksis dan paling fotogenik.

Cakep



Fotogenik



Smart

Dari KKN ini, banyak pelajaran yang bisa gue ambil. Gue jadi tau bahwa pemerintahan di desa masih kurang memadai. Mereka masih kesulitan untuk dapat akses keluar karena lokasi yang jauh dan infrastruktur yang terbatas.

Nilai paling positif yang ada di desa ini adalah, masyarakat disini masih kompak dan bersatu padu. Dari ujung ke ujung mereka saling kenal. Rumah mereka nggak dibatasi pagar menjulang kayak penduduk kota, yang kalo kena bencana terus rumahnya hancur, baru mau kenalan di tempat pengungsian. Bahkan, rumah warga disini nggak pernah di kunci karena kepercayaan bahwa setiap warga akan menjaga warga lainnya, jadi nggak akan ada yang berani berbuat jahat. Adat istiadat dan budaya juga sangat dijaga disini. Lo bakalan nemuin upacara adat yang udah lama hilang di perkotaan tapi masih dilakuin disini.



Selain dengan masyarakatnya, gue juga seneng bisa kenal dengan 14 orang mahasiswa kampus gue yang berbeda jurusan dan berbeda asal daerah. Karena meskipun satu kampus, tapi baru kali ini kami bisa ketemu. 

Gue mau ngucapin makasih untuk satu bulan yang berharga ini. Buat Coach Andrae, Irul Udin Belek, Jefri Mentel, Risky Pace, Soni Dancer, Lukman Wakwaw, Toriq (Manusia Poni SNI), Reta Collection, Bang Met, Fhara dak do utak, Trian Genthong, Bang Wan, Rabar Agung Hercules, dan Winan Budi pu bapak.

Dan yang TERSPESIAL. Terima kasih kepada kamu...iya kamu..

Ulat Bulu Dlingo



Oke sekian dulu postingan gue kali ini. Ini adalah postingan pertama gue di tahun 2015. Mampir lagi ya kalo sempet, jangan lupa juga tinggalin jejak di komen box, yaa...


Love youuuu….



.

2 komentar:

  1. Beuhh ada yang cakep tuh cewek temen kknmu haha

    BalasHapus
    Balasan
    1. E busett...dari sekian banyak tulisan yang gue posting, lo cuma fokus ke temen gue yang cakep? WTF..hahahaha

      Hapus