Kantor Baru, Semangat Baru!



Halo gay-s

Apa Kabar? *Salamin satu-satu*

Selama beberapa bulan ini, banyak hal yang udah gue lalui tapi selalu lupa gue tulis disini.  Dari mulai hal penting seperti gue kayaknya mulai yakin kalo bumi itu datar, sampai yang nggak penting seperti kadar gula darah gue yang udah mulai tinggi.

Tapi diantara itu semua, kali ini gue mau berbagi cerita yang lumayan penting dan sekiranya dapat mengubah nasib Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Yoi, gue sekarang udah pindah ke kantor baruuuu~~

FYI, beberapa bulan yang lalu gue memutuskan buat resign dari kantor lama gue. Alasan gue resign bisa dibilang sangat krusial dan mungkin bakalan banyak orang cerdas nan berintelektual yang pasti sangat mendukung alasan ini. Sengaja gue tulis cuma di blog dan gue harap nggak ada orang kantor gue yang baca soal alasan gue resign ini demi kenyamanan bersama. Yap, setelah  gue pelajari dengan seksama, gue baru menyadari kalo nama perusahaan lama gue itu kalau dalam bahasa kuno kaum hedonis di Guatemala, artinya adalah…

“SAYA YAHUDI”

Beuh! Ngeri kan?! Jadi, atas nama iman, takwa, dan gaji yang kurang, akhirnya gue pun memutuskan untuk resign.


Resign itu ibarat kita putus cinta. Dimana kita memutuskan untuk nggak memiliki hubungan apa-apa lagi dengan perusahaan yang lama. Persis kayak orang abis putus, beberapa hari setelah gue resign, gue kadang masih suka kebayang saat-saat pas gue masih kerja disana. Momen-momen yang manis sampai yang pahit. Waktu kami menjalani susah senang berdua. Dari yang dulunya cuma ngontrak sekarang udah bisa punya sendiri meskipun nyicil. Gimana perhatiannya perusahaan pas gue sakit dan dia ngasih gue asuransi kesehatan sehingga gue cuma bayar setengah doang. Sampai momen tak terlupakan saat gue ketahuan suka bawa pulang teh celup kantor dan dia dengan pengertiannya cuma motong gaji gue 5%.

Sweet.

Hal lain yang sama persis seperti orang putus, gue gengsi mau hubungi dia duluan. Sempet gue pengen hubungi duluan pas lagi kangen-kangennya, tapi niat itu hilang atas nama gengsi tadi. Sampai sebulan lamanya kami berpisah, akhirnya dia yang menghubungi gue duluan. Gue udah seneng dan kepedean. Gue yakin dia baru nyadar kalau dia nggak bisa apa-apa tanpa gue dan mau gue balik lagi kerja disana. Eh ternyata, setelah obrolan panjang siang itu, intinya dia cuma mau nagih kartu BPJS sama gaji gue yang waktu itu dibayar kelebihan. Sejak saat itulah gue mulai berpikiran : "Semua PT tuh sama aja!"

Oke, mungkin kalian jijik dengan cerita diatas. Disaat cowok lain punya kelainan tertarik sama anak kecil, tertarik sama tante, atau tertarik dengan sesama jenis, gue disini punya kelainan seks model terbaru dimana gue menjalin asmara dan terangsang dengan sebuah Perseroan Terbatas.

Semoga nyokap gue nggak baca tulisan ini :((((


Setelah mencoba move on, akhirnya gue ketemu dengan kantor gue yang sekarang. Memang dia nggak sebesar perusahaan lama gue, tapi setelah beberapa bulan kerja, gue ngerasa  lebih nyaman disini.

Kantor baru gue sekarang ada di Tomang, Jakarta Barat. Mungkin kalian yang domisili di Jakarta udah nggak asing lagi sama kantor Pusat JNE diwilayah Tomang ini. Kantornya lumayan gede, mewah, dan buka 24 jam. Ada sekitar 4 deret kantor JNE yang ada disini, yang paling gede itu kantor pusat, sebelahnya gedung training center, sebelahnya ware house/gudang, dan sebelahnya lagi kantor perwakilan wilayah Tomang. Semua itu tergabung dalam satu company dan memiliki sekitar 2000 karyawan.

Nah, kantor gue yang baru ada diseberangnya persis, dan nggak ada hubungan sama sekali dengan JNE.

Mohon maap.


Kantor gue sekarang bergerak di bidang container. Gue sendiri masih nggak ngerti kenapa gue bisa masuk kesini. Mayoritas ilmu yang di pakai disini adalah ilmu teknik. Sementara gue kuliah hukum. Pas awal-awal masuk gue suka konslet kalau ditanya tentang ketebelan baja, net gross, daya tekan, dll. Karena yang gue tau tentang container cuma satu : Kalo kegencet mati!

Di kantor yang sekarang karyawannya nggak terlalu banyak dan bisa dibilang dikit. Beda dari kantor gue sebelumnya. Tapi justru karena masih dikit, kekeluargaan dan kekompakannya masih berasa banget.

Udah sekitar dua bulan gue kerja disini dan gue mulai bisa menyesuaikan diri. Perlahan-lahan gue mulai biasa ngeliat baja, ngeliat puso, dan mulai hapal jenis-jenis container.

Misalnya kayak gini:

 
Ini namanya container dry


Ini adalah container yang umum banget kita liat dijalanan. Sesuai namanya ini adalah container untuk memuat barang-barang yang kering (dry). Misalnya : Baja, kayu, plastik, kain, odol, saleb koreng, gantungan kunci Singapore, kondom bekas, baju partai, ibu kost, jerapah, dinosaurus, dosen pembimbing, dan mantan.

Ini namanya container Iso-tank

Bukan. Meskipun namanya agak ke Jawa-Jawa-an (Re: Iso yang artinya “bisa”), bukan berarti container ini ditemukan oleh Sultan Hamengku Buwono ke delapan. Kontainer ini khusus buat mengangkut cairan-cairan kimia atau apapun yang berupa cairan. Seperti: NACL, NLL, H2SOQ, SO9, ML, MLM, PDKT, STMJ, GPP, GPL, M1SS CaLL, GWS, GBU, dan I L0v3 Y0u.

Ini namanya container Open Top

Ya, sesuai namanya “Open Top” gue kira ini adalah jenis container TERBUKA yang paling TOP. Sejenis biduan container yang suka buka-bukaan dan goyangannya Top. Tapi setelah gue di geplak sama guru bahasa Inggris gue, gue baru tau kalau artinya itu adalah container atap terbuka.

Container ini mirip sama bak-bak puso/truk yang biasa lewat jalur pantura sambil nyetel musik kenceng-kenceng lagunya Peterpan yang dibikin Remix. Ariel yang suara aslinya serak-serak basah, berubah jadi kayak abis ngisep lem pipa.

Container ini sama seperti container dry, tapi khusus buat ngangkut benda-benda yang volume nya besar/tinggi. Seperti: Baja besar, kayu balok, tower provider, Taj Mahal, candi Borobudur, Istana merdeka, saleb koreng ukuran jumbo, gantungan kunci Singapore ukuran jumbo, kondom bekas ultramen, dan dosa besar karena menyekutukan Allah SWT.

Masih banyak jenis lainnya tapi ntar pembahasannya terlalu panjang (padahal gue cuma tau 3 itu).

Dari cerita gue diatas,  gue sebenernya menaruh sebuah makna yaitu:

Move on itu memang sulit, tapi memperjuangkan hubungan dengan yang tidak mau diperjuangkan itu lebih sulit. Jangan takut menelan pahit. Tidak semua hal pahit itu negatif, siapa tau dipahit itulah ada manis yang sesungguhnya. Kamu hanya harus berani mencarinya. Sebagaimana kata pepatah, air susu dibalas air tuba.

Oke sekian dulu postingan singkat gue. Jangan lupa Subcribe postingan ini dan jangan berhenti di kamu. Ketik angka 1 di kolom komentar maka secara ajaib komentarnya akan muncul. Semoga kalian kembali ke jalan yang benar. Wassalam.



8 komentar:

  1. Mw nanya dong
    Orang yg buat kontener siapa namanya bang?
    Trus ada g hubungan kontener sama bukan kontener?
    Apa kalo kontenernya salah bisa dihukun g bang?

    BalasHapus
  2. 1!! Wah beneran muncul

    Selamat ya udah kerja di kantor baru. Gue kira cerita panjang lebar, kerja di JNE ternyata di sebrangnya. Huft

    BalasHapus
  3. Tumben sekali ada pelajaran yang bisa dipetik dari sini, kalo nggak ke sini mungkin gue nggak bakal tau nih jenis2 kontener itu apa aja. uhuy.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, pelajaran yang berguna banget kan Haha

      Hapus
  4. bang masih ada loker kah wkw siapa tau ada jadi kenek truknya bang #benerannanya ada loker gak wkw bukan jadi kenek

    BalasHapus
    Balasan
    1. Barusan oprek coy, lagi gada nih Hehe

      Hapus