Sabtu, 29 Oktober 2016

Ada Hantu Di Kantor!



Sudah jadi kebiasaan saat jam istirahat, beberapa dari kami berkumpul di baleho belakang kantor untuk sekedar bercengkrama atau berbagi keluh kesah. Tempatnya teduh, banyak kursi bekas, beberapa meja, dan yang paling penting letaknya agak tersembunyi, sehingga pak bos tidak bisa melihat kami bersantai meskipun jam istirahat telah usai.

Ini adalah tempat favorit bagi kami. Tidak hanya saat istirahat, namun juga saat sedang bosan diruang kerja, kami biasa pergi kesini sekedar untuk menenangkan diri atau lebih tepatnya malas-malasan.

Seperti hari ini, sebelum jam makan siang ditempat itu sudah ada bang Dwi, bang Iyus, dan mbak Ayi yang kelihatannya sudah sejak tadi berkumpul disana. Kebetulan kantor juga sepi karena para bos sedang pergi meeting diluar sampai sore. Terlebih lagi kerjaan hari ini tidak begitu banyak karena dead line-nya sudah lewat kemarin. Sepertinya kami akan tetap berkumpul disini sampai jam pulang kantor.

Mereka bertiga terlihat sedang berbincang serius saat aku datang. Karena saat aku sudah dudukpun, mereka acuh dan tetap berfokus pada mbak Ayi yang sedang bercerita sesuatu.

“Pada ngomongin apa nih?” Aku berusaha masuk di forum perbincangan. Aku selalu mencoba tetap sopan meskipun kami semua sudah akrab. Walau bagaimana pun aku anak baru disini. Baru empat bulan.

Karena pertanyaan itu, mereka lantas mengalihkan pandangannya padaku, hanya sebentar, tidak ada respon apalagi jawaban, dan mengembalikan fokusnya ke mbak Ayi yang duduk diatas kursi kayu sembari semakin seru bercerita.

“Dulu kantor ini bekas kantor pemerintah, kantor pajak kalau nggak salah” Kata mbak Ayi.

“Tahun berapa tuh?” Bang Dwi bertanya dengan penasaran.

“Kita beli kantor ini tahun 1999, berarti dibawah tahun itu”

Sekedar info, mbak Ayi adalah Kepala Gudang, dia sudah bekerja disini sejak awal 1999. Artinya, lama dia bekerja disini sama dengan masa reformasi Indonesia.

Belum juga aku mengerti arah obrolan mereka, Pak Karman, yang biasa menjaga kantor keluar dari kamarnya. Ya, dibelakang sini juga ada sebuah kamar berukuran 3x3m tempat Pak Karman biasa tidur saat malam hari. Dia ikut duduk bersama kami dan tidak lupa menyalakan rokok kreteknya.

“Tapi dulu kantor ini sempat kosong tiga tahun” Pak Karman tiba-tiba menimpali. Sepertinya dia sudah mendengar obrolan mereka dari kamar.

“Banyak setannya dong? Haha” Gurau bang Iyus.

“Ada 3. Ibu-ibu sama dua orang anaknya di dekat toilet sini” Pak Karman berbicara santai. Sedangkan kami langsung tidak santai.

“Biasanya jam dua malam mereka pasti keluar, terus anaknya main di ruang tengah, ibunya duduk aja diem ditangga” Lanjut Pak Karman. Masih tetap santai seolah-olah dia adalah ayah dari anak-anak itu.

Aku yang semula duduk agak jauh, mengangkat kursi dan mendekat. Kini aku tau arah obrolan ini. Seputar penunggu kantor. Aku sebenarnya tidak terlalu takut, tapi lebih ke penasaran saja.

“Terus? Ada lagi?” Kali ini aku yang bertanya.

“Diatas ada juga, tapi saya kurang tau. Jarang main ke atas kalau malam” Jawab Pak Karman.

“Emang bapak nggak takut?” Pertanyaan yang seharusnya dari tadi sudah kami tanyakan, baru tercetus sekarang dari bang Dwi.

“Ya takut. Saya kalau sudah jam 11 malam diem aja dikamar. Tapi saya lebih takut kelaparan kalau resign Hahaha”

Gelak canda Pak Karman terasa hambar. Karena memang hambar, ditambah lagi pernyataannya bahwa ada ibu dan dua anaknya yang sering main di ruang tengah kalau malam.

Ada hening sejenak setelah itu, setelah tawa Pak Karman berhenti. Imajinasi semua orang disana sedang bekerja, membayangkan keluarga kecil yang menghuni tempat ini tanpa kami tahu.

Antara percaya dan tidak. Tapi bagiku, rasa percayaku lebih besar. Pak Karman sudah sejak lama bekerja disini, entah dari tahun berapa. Bahkan dia sudah bekerja disini saat perusahaan ini masih dipimpin oleh ayah Pak Steve, bos besarku saat ini. Dia pasti paham semua sejarah kantor besar ini. Termasuk para penghuninya, baik yang nyata ataupun yang setengah nyata.

Saat pertama masuk, aku melihat kantorku memang mengerikan. Kantor ini terdiri dari empat lantai. Lantai 4 adalah gudang, sedangkan lantai 3 adalah bekas kantor perusahaan lain yang dulunya disewakan, namun mereka sudah pindah dan tanpa membawa barang-barangnya. Sehingga, lantai tiga hanya berisi ruangan-ruangan dengan banyak meja, kursi, alat tulis, dan dokumen penuh debu. Hanya lantai satu dan dua yang kami pakai untuk bekerja saat ini. Dua lantai sisanya, jarang sekali dikunjungi orang.

“Dulu pas belum seramai sekarang, jangankan malam, kalau udah mau sore mendekati jam 5 pasti ada aja kejadian aneh. Apalagi sekitar tahun 2003-an” Mbak Ayi melanjutkan ceritanya yang tadi sempat terputus.

“Misalnya?” Aku menimpali. Ya, aku sungguh penasaran. Aku suka dengan sejarah. Merekalah yang membuat sekarang adalah sekarang. Tanpa sejarah, sekarang itu tidak ada.

“Hmm…kadang tuh ya” Mbak Ayi memelankan nada suaranya. Seolah-olah takut apa yang dia bicarakan didengar oleh "seseorang". “Kadang-kadang, ada barang-barang yang suka jatuh sendiri dari lemari, keran air tiba-tiba nyala terus mati, printer ngeprint sendiri, bahkan pernah juga waktu itu dari ruang Pak Steve kedengeran suara Pak Steve lagi marah-marah terus ngacak-ngacak mejanya.”

"Pas saya masuk keruangannya, pulpen dan lain-lain udah berantakan di lantai. Mejanya kayak baru diamuk habis-habisan"

“Ya biasa kali mbak kalau bos marah, ada masalah mungkin. Anehnya dimana?” Bang Dwi menjawab remeh.

“WAKTU ITU PAK STEVE SEDANG DI BANDUNG!”

DEG!!

Aku sudah tidak mau mendengar lagi, takutnya aku jadi parno sendiri. Tapi rasa penasaranku lebih besar.

“Dulu disini ada yang namanya Nur, dia dulu mengurusi bagian import” Mbak Ayi kembali bercerita serius. “Waktu itu hari Sabtu jam 3 sore sekitar tahun 2009 kalau nggak salah. Dua hari sebelumnya, kita abis beres-beresin kantor. Semua barang dan dokumen yang nggak dipakai ditaro di lantai 3. Kecuali satu, mesin tik punya Pak Steve”

“Terus?” Bang Iyus mewakili kami semua memberikan pertanyaan. Berharap mbak Ayi mempercepat ceritanya kebagian inti.

“Karena Sabtu, semua karyawan sudah balik jam 12, kecuali Nur dan saya. Sebab hari Senin paginya ada dokumen penting yang harus dikasih ke bea cukai”

Kami semua menyempatkan diri untuk bertatapan sejenak. Saling bertanya dan mencoba menebak apa yang akan terjadi setelahnya.

“Terus?”

“Dokumen itu bentuknya formulir yang harus diisi dengan mesin tik. Waktu itu juga Nur langsung nyalain mesin tik itu diruang tengah lantai dua. Itu adalah mesin tik listrik, yang udah ada disini sejak perusahaan ini ada. Jarang dipakai, tapi tetap terawat. Mungkin itu bisa jadi barang antik sepuluh tahun lagi.”

“Hmm…” Kami semua menghela nafas, tidak sabar menunggu ending.

“Waktu itu saya berdiri disebelah Nur buat bantu bacain kalimat yang mau diketik. Eh baru juga jadi separo, pas lagi ngetik tiba-tiba listriknya padam!”

Kami mendengarkan dengan seksama. Tidak ada kata tanya apapun kali ini.

“Nur kaget, yang tadinya lagi ngetik, karena listrik mati, dia langsung berhenti. Tangannya dia taro dimeja, disamping mesin tik. Dia ngeliat saya, saya ngeliat dia. Kami sangat takut waktu itu dengan apa yang kami liat”

“Apa?!”

“Liat apa?!”

“Mesin tik nya nggak mati, tapi malah ngetik sendiri! Kami makin takut pas tau apa yang dia ketik di form itu.”

“APA?”

“MAAF DAN TERIMA KASIH TELAH MEMBERI SAYA WAKTU”










8 komentar:

  1. hayoloh bang hayoloh
    mending takut resign terus engga makan
    jajahaha

    BalasHapus
  2. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
    Balasan
    1. lo ga bertuhan bang masa takut ama yang kaya gtuan !!
      kalo gua mah takut ga bisa makan bulan depan !!

      Hapus
  3. Duh pas bener gini bang, gue bacanya malam jumat, anjirr
    Ceritamu mengingatkanku pada keluarga tak kasat mata di thread kaskus deh

    BalasHapus
  4. terekam cctv tuh hantu mpus dah

    BalasHapus