Sabtu, 18 Februari 2017

Berkunjung Ke Rumah Pak Bos!




Siang tadi ada nomor nggak dikenal yang menghubungi handphone gue. Sebelum diangkat, gue sempat memperhatikan nomor itu baik-baik.

“Normornya kayak nggak asing” Ucap gue dalam hati.

Kalau nomornya nggak asing tapi nggak gue save, itu berarti pemilik nomor itu pernah menghubungi gue lebih dari sekali dan pasti dia punya masalah sama gue sehingga nomornya ogah gue save. Entah itu dari asuransi, dealer motor yang nawarin sekolah BPKB, atau kalau dulu, temen-temen geje gue yang sengaja nelpon buat dengerin NSP.

Buat kalian adik-adik yang baru akil baliq dimasa pemerintahan presiden Joko widodo, NSP itu adalah singkatan dari Nada Sambung Pribadi. Zaman dulu, anak muda yang pas ditelpon terus nada sambungnya lagu dari Hijau Daun atau Peterpan, maka dia layak menyandang gelar “remaja gaul berkecukupan” selama dua periode masa puber.

Akhirnya karena penasaran, telpon itu pun gue angkat. Siapa tau itu telpon penting.

“Halo, kok wifi di rumah saya lemot ya udah berapa hari ini?”

“Hah?” Gue berusaha mengenali suara diujung sana yang beneran nggak asing, dan juga kenapa dia tiba-tiba tanya wifi?  “Eh maaf, si..siapa ya?”

“Lo nggak save nomor gua?! Wah gue jitak juga lo!”

Gue pun kaget dan sontak langsung memundurkan kursi kerja gue, berusaha mengintip ke ruangan pak bos, dan bener aja dia nggak ada. Itu berarti dia menelepon gue pakai handphone pribadinya. Seperti dugaan gue, nomor yang nggak gue save ini akhirnya menimbulkan masalah. Ya, ini nomor Pak Steve, bos gue.

“Wifi dirumah saya kok lemot ya belakangan ini?” DIa melanjutkan pembicaraan.

“Duh..Kalau soal wifi saya gak ngerti Pak.”

“Kan dulu kamu yang pasangin wifi di rumah saya, gimana sih?!”

“Ah..nggak pernah Pak, saya nggak pernah pasang wifi dimana pun!”

“Pernah!”

“Enggak!”

“Pernah!”

“Gak!”

“Pernah, atau potong gaji?!”

“Okesip saya pernah!”

“Tuh kan bener. Cek sekarang ya, wifi-nya lemot!”

Entah siapa yang memasang wifi di rumah Pak Steve, tapi yang pasti gue yang kena susahnya. Sebuah maklumat dari Pak Steve sudah diturunkan. Gue harus ngecek ke rumahnya. Ibarat kerajaan, dia adalah raja agung yang punya kuasa penuh. Sedangkan gue hanyalah petugas isi ulang token listrik.

Tapi kebetulan hari ini gue sedang nggak ada kerjaan. Gue dan koh Veri, teknisi yang biasa ngurusin masalah IT di kantor, pergi ke rumah Pak Steve.

Berbekal alamat rumah di kertas kecil dari Mbak Ayi -kepala gudang sekaligus orang kepercayaan Pak Steve- gue dan koh Veri pergi menyelesaikan misi penting. Benerin wai-fi.

Sebelum berangkat, mbak Ayi sempat mengucapkan sebuah pesan “Selamat puyeng ya”. Tapi karena udah hampir sore, gue pun nggak ambil pusing sama omongan Mbak Ayi barusan.

Rumahnya ada di salah satu kawasan elit Jakarta. Lingkungannya asri, sepi, glamor, dan bersih banget. Kalau di kampung gue, tempat kayak gini udah jadi tempat wisata. Banyak pedagang balon sama pedagang ciken naget. Terus ada hiburan dari artis ibu kota dengan baju super ketat dan menggunakan bedak tabur secara tidak wajar.

Kami berhenti tepat di sebuah rumah dengan nomor yang sama seperti di kertas. Rumah dua lantai berwarna putih.

Meskipun agak ragu, tapi gue memberanikan diri buat membuka pagar, mengetuk pintu, mundur selangkah dan memasang wajah semanis mungkin. Eh, nggak manis juga sih, tapi sesuai standar keasusilaan Indonesia dan kaedah bertatakrama yang baik sebagaimana yang diajarkan dalam buku saku Pramuka.

Terdengar suara langkah kaki dari dalam yang mendekati pintu. Gue agak deg-degan, sementara koh Veri berdiri santai tepat di belakang gue sambil sibuk mengunyah permen karetnya.

Pintu dibuka, seorang ibu-ibu muncul dari balik pintu, namun teralis besinya masih terkunci rapat. Sepertinya itu istri Pak Steve.

“Permisi Bu, saya Arie. Pak Steve suruh kami buat cek wifi” Gue ramah memperkenalkan diri, melebarkan senyum selebar-lebarnya sampai 32 gigi gue keliatan semua.

Tapi dia cuma memandang gue bingung. Tidak lama kemudian dia mengangguk dan membuka pintu trails setelah dia yakin kalau muka gue tidak ada sangkut pautnya dengan tragedi Pulomas.

“Boleh tau wifi-nya dimana?” Gue bertanya dengan ramah lagi.

Ibu itu mengangguk dan mempersilahkan kami masuk tanpa mengucapkan sepatah katapun. Kami mengikutinya, naik ke lantai dua dan masuk ke sebuah ruangan. Disana ada sebuat router wifi terpasang dengan lampu menyala dan berwarna merah. Tanda kalau sinyalnya sedang tidak baik. Tanpa basa-basi koh Veri langsung ngeluarin laptop dan melaksanakan tugasnya. Benerin wifi.

Nggak mau kalah, gue juga melakukan tugas gue. Berdiri sambil liatin koh Veri. Tujuannya apa? Nggak ada sih, biar dia gerogi aja.

Karena ada hening yang panjang antara gue dan isteri Pak Steve, gue pun coba buat basa-basi. “Pak Steve kemana Bu, kok seharian nggak ke kantor?”

Dia cuma ngeliat gue, masih tanpa jawaban. Gue nelen ludah dan berusaha mempertebal jaringan kulit di muka gue.  

“Ri, tanyain password wifi-nya” Kata koh Very. Gue sebagai asisten yang sebenernya gak berguna-berguna banget disini, berusaha membantu sebisa gue.

“Bisa tolong password wifi-nya, Bu?”

“Password? Oke” Istri Pak Steve langsung menunjukan password wifi yang ada di laptop miliknya.

Tiba-tiba disaat yang sama ada seorang anak laki-laki keluar dari sebuah ruangan dan menghampiri kami. Dia pasti anak Pak Steve. Sambil memeluk ibunya dengan manja, mereka berbicara sambil berbisik-bisik.

"Anaku san, aiko na ditawarken minum heulatuh urang-urang”

“Haik, oiyo tentusaja mama san”

Gue tercengang. mereka ngobrol pakai bahasa Jepang. Pantes aja dari tadi gue didiemin doang. Ternyata setelah gue pikirkan dengan seksama, kayaknya istrinya Pak Steve nggak bisa bahasa Indonesia. Anaknya juga kayaknya nggak terlalu lancar bahasa Indonesia, tapi bisa dikit-dikit. Dia lebih pinter bahasa Inggris atau bahasa Jepang. Sedangkan gue pasih bahasa Indonesia dan pasih juga bahasa Inggris (Spesialis bagian nanyain kabar dan kata-kata makian)

Seolah mendapat arahan, anak Pak Steve langsung bertanya ke gue “Mau minum?”

“Oh, gausah. Makasih dek. Kita cuma sebentar disini” Gue menolak halus tawaran tersebut.
Sambil malu-malu, dia balik ke pelukan ibunya lagi.

Karena nggak ada pilihan lain, mau nggak mau anaknya harus kami jadikan translater. Karena cuma dia yang ngerti bahasa Jepang, Inggris, dan Indonesia meskipun nggak lancar. Ternyata ini yang dimaksud sama mbak Ayi “Selamat puyeng”.

Susah payah juga gue menerangkan ke anaknya tentang hal-hal yang kami perlukan selama proses perbaikan wifi. Kadang juga gue harus pakai bahasa isyarat supaya dia ngerti apa yang gue omongin.

Pas koh Veri udah selesai benerin wifi-nya dan tinggal di uji coba. Gue mau nanya dimana ruang kerja Pak Steve.

“Where is your papa room?”

Dia langsung menuju ke sebuah ruangan. Gue sempet lega karena gue bisa bahasa Inggris dan dia ngerti apa maksud gue. Tapi itu nggak berlangsung lama, karena dia bawa gue ke kamar Pak Steve.

Gue gaduh, mencoba menjelaskan kalau maksud gue bukan kamar, tapi ruang kerja.

“No..no..no, I mean your papa office”

Untungnya kali ini dia beneran ngerti dan membawa kami ke ruang kerja Pak Steve di rumah itu. Gue kira pas gue tanya “Your papa office” dia bakal lari keluar rumah, naik angkot nomor 48, terus bawa gue ke kantor gue di Tomang. Yang tak lain adalah kantor Bapaknya.

Hal-hal lainnya pun bisa dijelaskan dengan baik, meskipun perlu usaha keras. Apalagi pesan koh Veri yang terakhir sebelum kami pulang. Entah dia polos atau sengaja ngerjain gue.

“Ri, bilangin ke dia kaya gini: Bilangin ke Papa kamu kalau kerja jangan dilantai satu, karena wifi-nya nggak sampai kesana. Dilantai dua aja. Ini kabel wifi-nya juga perlu yang baru, beli di Glodok sekitar 200 ribu satu roll. Kabel yang lama juga banyak yang udah telanjang, bahaya loh itu. Entar kalau udah panjang kabelnya, router-nya bisa dipasang ditengah ruangan. Jadi daya jangkaunya lebih luas.”

Gue diem. Menatap sinis ke arah koh Veri. Bagaimana caranya gue menjelaskan kalimat sepanjang itu ke anaknya dengan bahasa isyarat. Terutama pada kata “kabel telanjang”

“Kenapa lo malah liat gue sinis?”

Tanpa ngejawab apa-apa, gue ngeluarin hape dan menelepon Pak Steve.

“Halo Pak, wifi nya udah bener. Bapak kalau kerja jangan dilantai satu, karena wifi-nya nggak sampai kesana. Dilantai dua aja. Ini kabel wifi-nya juga perlu yang baru, beli di Glodok sekitar ..berapa koh?”

“200 ribu”

“Sekitar 200 ribu satu roll Pak. Kabel yang lama juga banyak yang udah telanjang, bahaya Pak.. Entar kalau udah panjang kabelnya, router-nya bisa dipasang ditengah ruangan. Jadi daya jangkaunya lebih luas”

“Ok Thanks, kamu atur aja”

Telpon pun ditutup. Koh Veri sedih. Gue tersenyum lega. Dengan ngomong langsung ke Pak Steve, gue nggak harus bugil sambil memegang kabel terus berakting kejang-kejang untuk memperagakan maksud dari “kabel telanjang” ke anaknya.

Kami pun pulang sekitar jam 5 sore. Istri Pak Steve dan anaknya mengantar kami sampai pagar depan. Sebelum kami jalan, dia tersenyum ramah dan berkata “Arigato”

“Moshi-moshi” Jawab gue tidak kalah ramah. Koh Very langsung tancap gas dan meninggalkan ibu dan anak itu dengan muka bingung.





.

5 komentar:

  1. kok moshi moshi sih jawabnya? ikeh ikeh kimochi dong
    payahlah sih abang masa takut sama gaji yang dipotong
    saya aja engga takut loh bang gaji abang dipotong
    yg penting bukan gaji saya yg dipotong
    .
    itu kayaknya bahasa sunda campur jepang dah
    blesteran jepang sunda ya
    coba dah tanya sama istrinya pak bos
    .
    kalo kabelnya telanjang suruh pake baju sama celana aja
    kasian loh dia nanti bisa masuk angin, sekarang kan lagi musim ujan
    saya aja kemarin masuk angin loh bang

    BalasHapus
  2. Oalah gitu to ceritanya. Lha sebetulnya itu emang tanggung jawabnya Bang Arie atau bukan ngurus2in wifi rumahnya Pak Bos? Anyway, emang muka si istrinya ngga kelihatan kaya orang Jepang? Hahahaha bersyukurlah karena ada anaknya ya jadi ngga nganu2 banget :p

    Btw, aku kirain masih wandering around di Jogja, Bang. Ternyata udah balik ke Jakarta lagi to.

    BalasHapus
  3. walah ngomong jepang mele... "jepang" gitu ae dah :v

    BalasHapus
  4. Moshi-moshi itu , hallo woyyy, kaga cocok, bangakai. Arie mah lucu terus ya post blognya. Mantaps

    BalasHapus
  5. Lucu :'v Gimana caranya biar bisa lucu gini kalo buat artikel bang? :"v Gak pernah muncul rasa pengen berhenti baca di tengah-tengah artikel :"D

    Standar keasusilaan Indonesia dan kaedah bertatakrama yang baik sebagaimana yang diajarkan dalam buku saku Pramuka itu apa aja ya bang? Saya mau pelajari juga. Trus senyum keliatan 32 gigi gimana caranya bang? :v

    Oh, iya. Tadi kirain salah rumah. Ternyata bener.

    BalasHapus